Rabu, 21 Juni 2017

UZBEKS IN TAJIKISTAN

40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA -- SENIN, 19 JUNI 2017

UZBEKS IN TAJIKISTAN

Bilol, yang berusia tujuh tahun, tersenyum malu saat ia berjalan dari pintu ke pintu di desanya dengan teman-temannya, mengumpulkan permen dan melakukan berbagai hal lainnya pada hari pesta liburan (Idul Fitri) di penghujung bulan Ramadan.

Meskipun ia memulai tahun pertama sekolahnya pekan lalu, seragam sekolah yang diwajibkan sudah tidak cukup ukurannya dan sudah bernoda. Di wajahnya terdapat goresan karena pertengkaran dengan anak lain. Apa yang tidak akan Saudara ketahui tentang Bilol pada pandangan pertama adalah bahwa ia nyaris tidak ingat bahwa ia pernah melihat kedua orang tuanya bersama-sama. Ayahnya berangkat untuk mencari pekerjaan di Rusia lima tahun lalu, dan semenjak waktu itu, ayahnya tidak pernah menghubungi keluarganya. Para kerabat kadang-kadang mendengar kabar dari seseorang yang telah berjumpa dengannya sehingga mereka tahu bahwa dia masih bekerja di sana.

Seperti kebanyakan orang Uzbek, ketika orang tua Bilol menikah, mereka tinggal bersama orang tua ayahnya, saudara-saudaranya, dan istri-istri, dan anak-anak mereka. Akan tetapi, ketika ayahnya tidak kembali dari Rusia, ibunya akhirnya mengambil Bilol dan dua saudaranya kembali untuk tinggal bersama orang tua ibunya. Hal itu menjadi kesulitan bagi mereka sehingga dua tahun yang lalu ibu Bilol juga berangkat mencari pekerjaan di Rusia. Akhirnya, dia mendapatkan pekerjaan, dan secara berkala dia mengirimkan uang ke rumah orang tuanya. Bilol menghabiskan waktu di kedua rumah kakek-neneknya, yang terpisah hanya beberapa ratus yard di desa mereka. Dalam masa-masa pertumbuhannya, banyak waktu yang dilaluinya tanpa perhatian-kepedulian dan tanpa lingkungan yang nyaman sebagaimana layaknya dibutuhkan oleh seorang anak.

Bilol hanyalah salah satu dari generasi anak-anak Uzbek yang tumbuh dengan "kurangnya perhatian orang tua". Tajikistan adalah negara termiskin di Asia Tengah bekas kawasan Soviet, dan banyak di antara mereka harus berjuang untuk menghidupi keluarga mereka, terutama yang ada di desa-desa. Sebagai akibatnya, setidaknya setengah dari kaum laki-laki bekerja di luar negeri selama hampir sepanjang tahun. Orang Uzbek (kira-kira 25% dari populasi negeri itu) lebih berpeluang untuk bekerja di luar negeri dibandingkan kebanyakan orang Tajikistan, sebab, sebagai kaum minoritas, mereka jauh lebih kecil kemungkinannya untuk mempertahankan pekerjaan yang hanya bergantung pada negara.

Mari kita berdoa:

- Agar anak-anak seperti Bilol akan mendengar berita menakjubkan tentang kasih Bapa dalam Yesus Kristus bagi mereka.

- Agar para orang tua yang telah pergi ke luar negeri untuk mencari pekerjaan berjumpa dengan pengikut Kristus yang akan menolong mereka di tempat-tempat mereka.

- Supaya ada kepemimpinan yang bijaksana di Tajikistan untuk membangun perekonomian yang lebih stabil sehingga keluarga-keluarga dapat hidup bersama-sama.

Tidak ada komentar: