Selasa, 27 Juni 2017

PERSIAPKAN DIRI ANDA

Persiapan Spiritual Bermisi -- Edisi 06/Juni/2017
 
DARI REDAKSI: PERSIAPKAN DIRI ANDA
Shalom,
Ketika Nabi Yesaya menjawab pertanyaan Tuhan dalam Yesaya pasal 6, "Siapakah yang mau pergi untuk Aku?" saya yakin, dengan penuh kesiapan, Yesaya menjawab, "Ini aku, utuslah aku!" Yesaya mengetahui bahwa panggilan yang diterimanya berasal dari TUHAN yang hidup. Yesaya telah dipersiapkan oleh Tuhan sejak lama sebagai seorang yang hidup beriman kepada TUHAN, sampai pada suatu ketika Tuhan memberi panggilan melalui penglihatan khusus kepadanya. Ia merespons dengan ketidaksiapan yang melanda dirinya, "Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku seorang yang najis bibir dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir." Yesaya menyadari keadaan rohaninya yang najis, padahal ia adalah seorang yang saleh dan hidup dalam ketaatan agamawi. Namun, jika diamati, Tuhan sendirilah yang menyadarkan Yesaya akan keadaannya sehingga ia boleh mengakui kelemahannya di hadapan Tuhan. Tuhan menyucikannya dengan menyentuhkan bara ke mulut Yesaya melalui utusannya, Serafim, sebagai tanda bahwa Yesaya dikuduskan dan siap untuk diutus sebagai seorang nabi bagi umat Israel.
Persiapan diri untuk diutus sebagai seorang pembawa Kabar Baik adalah hal yang sangat dibutuhkan. Pergerakan gereja tidak bisa dibatasi oleh empat tembok yang mengurungnya. Setiap orang percaya dipersiapkan untuk membawa Kabar Baik. Jika Anda merasa tidak siap, hal itu sangatlah wajar karena yang akan mempersiapkan Anda adalah Dia sendiri sebagai Sang Pengutus Agung. Sediakan diri Anda untuk mengenal Dia melalui firman-Nya, mengenal isi hati-Nya, dan menggumulkan bagian yang akan Anda kerjakan. Dalam edisi berikut, Redaksi e-JEMMi menyajikan sebuah artikel dan sebuah renungan yang bertema persiapan dalam pelaksanaan misi bagi Tuhan. Kiranya boleh memberkati dan menolong kita sekalian guna mempersiapkan diri menjadi utusan-utusan Tuhan bagi dunia. Selamat membaca, Tuhan Yesus memberkati.
Ayub T.
Pemimpin Redaksi e-JEMMi,
Ayub T.
 
ARTIKEL: PERSIAPAN SPIRITUAL
Persiapan spiritual
Anda telah memperbarui paspor Anda, mengemas barang bawaan dengan sempurna, dan bahkan sudah membuang sampah ke luar rumah. Apa lagi yang masih perlu dilakukan? Persiapkan pikiran dan hati Anda.
Jika semua yang perlu Anda lakukan adalah mempersiapkan diri menghadapi kondisi lingkungan di tempat yang Anda tuju, Anda kehilangan sisi "misi" dalam perjalanan misi Anda. Anda tidak hanya perlu mempersiapkan perjalanan Anda, tetapi juga misi Anda, dan itu berarti memastikan bahwa jiwa Anda berada di tempat yang tepat.
Seperti halnya Anda tidak ingin melakukan perjalanan tanpa lebih dulu menyiapkan peralatan yang tepat, Anda pun sebaiknya tidak melakukan perjalanan misi tanpa lebih dulu mempersiapkan pikiran dan hati Anda.
Selaraskan hati dengan tujuan Anda.
Jika kita jujur dengan diri kita sendiri, kadang kala kita punya motif-motif tersembunyi ketika melakukan sebuah perjalanan misi. Kita ingin bepergian. Kita ingin mengenal pria atau wanita tertentu. Kita ingin merasa nyaman dengan diri kita sendiri. Kita ingin terlihat sebagai orang Kristen yang lebih baik ketika kita kembali.
Namun, perjalanan Anda memiliki tujuan yang lebih besar. Ajukan kepada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan jujur, dan usahakan jangan hanya membaca sepintas. Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan-pertanyaan sederhana, tetapi akan membantu memfokuskan pikiran dan hati Anda pada tujuan perjalanan Anda.
Apa saja alasan saya mengikuti perjalanan ini? Apakah saya punya motif-motif tersembunyi dengan mengikuti perjalanan misi ini? Apa saja itu? Berdasarkan motif-motif saya sekarang ini, jika saya pergi hari ini, apakah yang menjadi fokus utama perjalanan saya? Kira-kira apa yang penduduk lokal rasakan tentang motif-motif saya ini? Kira-kira apa yang Tuhan rasakan tentang motif-motif tersebut? Apa tujuan utama perjalanan saya? Apa yang seharusnya menjadi fokus saya? Mengapa saya perlu sungguh-sungguh menyelaraskan fokus saya dengan tujuan utama perjalanan ini?
Sambutlah anugerah dalam segala situasi.
Allah telah memilih Anda untuk pergi. Ia ingin menggunakan Anda sebagai alat-Nya. Mengapa? Apakah karena Anda rajin membaca Alkitab setiap hari pada bulan ini? Atau, karena Anda punya pengetahuan yang luar biasa tentang kebudayaan Afrika? Mungkin tidak. Itu semata karena anugerah-Nya. Mungkin saja ada orang-orang yang lebih pintar, lebih bijaksana, dan lebih memahami Alkitab di luar sana, tetapi Ia memilih Anda. Allah, melalui anugerah-Nya, telah memilih Anda untuk pergi, jadi Anda harus pergi dengan rasa syukur. Apa artinya? Itu berarti mempraktikkan sifat-sifat yang sering kali tidak sesuai dengan keinginan kita. Ini soal merespons ketimbang bereaksi.
Jika penerbangan Anda mengalami penundaan, jika mereka kehabisan menu vegetarian di dalam pesawat, jika makanannya terasa aneh, jika Anda tidak bisa tidur nyenyak, jika Anda diigigit serangga, terimalah ....
Ubahlah kekeraskepalaan menjadi fleksibilitas; ubahlah keluhan menjadi rasa syukur; ubahlah pergunjingan menjadi kebesaran hati; ubahlah sarkasme menjadi kebaikan; dan ubahlah penghakiman menjadi rasa syukur.
Anda memang tidak bisa begitu saja menjadi seseorang yang penuh dengan rasa syukur. Ini adalah sebuah pola pikir yang harus dengan sengaja selalu Anda lakukan dan latih. Ajukan kepada diri Anda pertanyaan-pertanyaan sederhana ini guna mulai mempersiapkan pikiran dan hati Anda merespons situasi-situasi sulit dengan rahmat.
Dapatkah saya mengantisipasi situasi apa pun dalam perjalanan misi saya mengingat saya mungkin saja mengalami kesulitan untuk menerima anugerah? Seperti apa "merespons dengan rasa syukur" situasi-situasi sulit seperti itu? Apa yang dapat saya lakukan sekarang untuk mempersiapkan pikiran dan hati agar saya menerima anugerah dengan sungguh-sungguh sepanjang perjalanan misi saya?
Mempersiapkan diri untuk melayani orang lain.
Terkadang, kita begitu fokus pada pengumpulan dana dan persiapan yang tepat sehingga kita lupa mempersiapkan diri untuk melayani orang-orang baru yang akan kita temui sepanjang perjalanan misi. Mempersiapkan pikiran dan hati Anda untuk orang lain berarti memasuki komunitas mereka dengan kerangka berpikir yang benar. Ajukan kepada diri Anda pertanyaan-pertanyaan di bawah ini untuk membantu menyiapkan diri Anda melayani komunitas baru dengan efektif.
Pikirkan tentang orang-orang yang akan Anda layani. Menurut Anda, seperti apa kehidupan sehari-hari mereka? Apakah kebutuhan terbesar mereka menurut Anda? Apakah itu kebutuhan spiritual (untuk belajar lebih jauh tentang Yesus) atau kebutuhan fisik (untuk menerima dukungan nyata dan fisik)? Apa masalah-masalah yang menyebabkan mereka membutuhkan hal-hal tersebut? Apa yang akan mencegah penduduk setempat memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut? Bagaimana Anda akan mencoba melayani dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu? Apa yang bisa Anda lakukan ketika Anda sudah kembali pulang untuk membantu para penduduk lokal terus memiliki kemajuan dalam pemenuhan kebutuhan spiritual dan fisik mereka?
Setelah Anda kembali.
Wah! Sebuah perjalanan yang melelahkan. Sekarang, karena Anda sudah di rumah, Anda mungkin melihat dunia sekitar dengan cara yang baru. Beberapa orang menyebut hal ini sebagai "guncangan budaya arus balik". Beberapa yang lain menyebutnya sebagai bagian dari pengalaman "puncak spiritualitas". Apa pun itu, hidup Anda sudah berubah. Namun, tidak untuk waktu yang lama.
Anda akan menceritakan perjalanan Anda kepada orang lain dan mereka tidak mengerti. Anda akan menunjukkan kepada mereka foto-foto perjalanan Anda dan mereka akan mengatakan, "Oh ya, itu bagus." Namun, ikatan antara Anda dan tim Anda luntur. Anda akan kembali ke sekolah. Kembali bekerja. Pikiran dan hati Anda akan kembali seperti sebelum Anda pergi ... jika Anda tidak membuat perubahan-perubahan yang sengaja Anda upayakan.
Apakah Anda tahu bahwa Allah yang memberi Anda pengalaman luar biasa dalam perjalanan ke luar sana adalah sama dengan Allah ketika Anda berada di negara Anda? Allah adalah sama, baik itu di Uganda, Argentina, maupun di Amerika Serikat. Andalah yang berubah dan mata Andalah yang terbuka ketika Anda pergi ke luar negeri. Sekarang, karena Anda tahu apa yang bisa Ia lakukan, waktunya untuk membawa pengalaman itu pulang.
Ajukan kepada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut ini beberapa hari setelah Anda kembali dari perjalanan Anda. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini akan membantu memastikan bahwa perubahan hidup yang sudah Anda alami akan terus berkelanjutan.
Apa yang saya pelajari tentang diri saya selama perjalanan? Apa yang saya pelajari tentang Allah selama perjalanan? Apa yang mengubah diri saya selama perjalanan? Apa yang memicu perubahan itu? Apa yang bisa saya lakukan sekarang sehingga perubahan itu tetap melekat pada diri saya? Apa yang sudah saya pelajari tentang tujuan Allah bagi hidup saya? Langkah-langkah apa yang bisa saya ambil selama satu bulan ke depan untuk menyelaraskan hidup saya dengan apa yang sudah saya pelajari tentang tujuan Allah bagi hidup saya?
Jangan berhenti sekarang.
Jika Anda jujur menjawab semua pertanyaan itu, selamat. Anda memanfaatkan hampir semua kesempatan yang Tuhan berikan untuk Anda. Jangan berhenti sekarang! Tetaplah fokus dan mulailah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelaraskan apa yang sudah Anda pelajari dengan tujuan Allah bagi hidup Anda. Anda bisa melakukannya. (t/Aji)
Diterjemahkan dari:
Nama situs : Prepare My Mission
Alamat situs : http://preparemymission.com/spiritual-prep/
Judul asli artikel : Spiritual prep
Penulis artikel : CJ dan Teri
Tanggal akses : 14 November 2016
 
RENUNGAN: PERSIAPAN MELAYANI (1): MEMPERSILAKAN DIPERIKSA OLEH FIRMAN ALLAH
"Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu."
(Matius 5:23-24)
Mudah membayangkan bahwa tiba-tiba kita akan mencapai suatu tahap dalam hidup ketika kita benar-benar siap melayani. Namun, kesiapan bukanlah sesuatu yang dicapai secara mendadak. Malah, pada kenyataannya, itu berupa proses yang harus tetap dipelihara.
Adalah berbahaya merasa mapan atau settled dan puas dengan tahap pengalaman kita sekarang. Kehidupan Kristen menuntut adanya persiapan dan lebih banyak persiapan. Rasa ingin berkorban dalam kehidupan Kristen dengan cepat memikat seorang Kristen baru. Dari sudut pandang manusia, satu hal yang menarik kita kepada Yesus Kristus adalah semangat berkorban atau heroik kita. Namun, pemeriksaan cermat atas diri kita dengan kata-kata Tuhan ini tiba-tiba menguji semangat kita. ".... pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu ...." Kata "pergilah" dalam konteks persiapan ini berarti mempersilakan firman Allah memeriksa Anda dengan cermat.
Hanya semangat berkorban tidaklah cukup. Ada hal yang ingin Roh Kudus periksa dalam diri Anda, yakni sifat Anda yang tidak akan dapat dipakai dalam pelayanan-Nya. Tidak seorang pun, kecuali Allah, yang dapat menemukan sifat itu dalam diri Anda. Adakah sesuatu dalam diri Anda yang disembunyikan dari Allah? Jika ada, biarkan Allah menyelidiki Anda dengan terang-Nya. Jika terdapat dosa dalam hidup Anda, akuilah itu dengan sungguh. Bersediakah Anda mematuhi Tuhan dan Tuan Anda meskipun mungkin ada hal-hal yang merendahkan hak Anda, yang mungkin akan Anda terima?
Jangan sekali-kali mengabaikan penginsafan yang dinyatakan oleh Roh Kudus kepada Anda. Jika ada sesuatu yang cukup penting bagi Roh Allah untuk digugah dari pikiran Anda, memang itulah hal yang sedang ditemukan-Nya dalam diri Anda. Mungkin Anda sedang mencari suatu hal besar untuk Anda lepaskan, padahal Allah sedang memberi tahu Anda suatu hal kecil yang harus Anda lepaskan. Akan tetapi, di balik hal kecil itu terletak benteng kekerasan hati, dan Anda berkata, "Aku takkan melepaskan hakku atas diriku sendiri" -- hal yang justru Allah ingin agar Anda lepaskan jika Anda ingin menjadi seorang murid Yesus Kristus.
Diambil dari:
Nama situs : Renungan Harian My Utmost for His Highest
Alamat situs : https://renunganharianmyutmostforhishighest.wordpress.com/ditetapkan-allah-untuk-kudus/persiapan-melayani-1-mempersilahkan-firman-allah-memeriksa-diri-kita-dengan-cermat
Judul asli artikel : Persiapan Melayani: Mempersilakan Diperiksa oleh Firman Tuhan
Penulis artikel : Oswald Chambers
Penerjemah : Agustinus Purba
Tanggal akses : 26 Januari 2017
 
Anda terdaftar dengan alamat: davebroos@yahoo.co.uk.
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-JEMMi.
misi@sabda.org
e-JEMMi
@sabdamisi
Redaksi: Ayub. T, Elizabeth N., dan N. Risanti
Berlangganan|Berhenti|Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
© 2017 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

Tidak ada komentar: