Rabu, 21 Juni 2017

MELINDUNGI PEMUDA MUSLIM DI EROPA

40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA -- KAMIS, 22 JUNI 2017

MELINDUNGI PEMUDA MUSLIM DI EROPA

Sebuah bom meledak di Paris dan ISIS (Negara Islam) mengklaim bertanggung jawab. Bagi umat Islam konservatif di seluruh Eropa, sekali lagi, itu akan berarti tatapan, ejekan, pelecehan di media sosial, dan kadang-kadang lebih buruk dari itu semua. Dan hal itu akan terjadi lagi.

Yasmin, seorang gadis Muslim, putri dari seorang teman, yang berusia 15 tahun, menulis sebuah puisi untuk mengungkapkan bagaimana hal itu dirasakannya. Puisi itu membuat saya menangis: tekanan dari seribu tatapan mata di hadapan umum dan media yang tampak bertekad untuk mengutuk, telah melukai orang-orang muda seperti dirinya dan menuai akibat yang menyedihkan.

Banyak anak muda yang cukup tangguh, dan dengan dukungan yang kuat dari keluarga, dampak itu bisa berlalu. Beberapa orang menjadi marah, mengungkapkan kemarahan itu sama seperti yang mungkin dilakukan oleh banyak remaja dari budaya mana pun. Beberapa orang lainnya -- dan itu hanya sedikit -- tidak begitu beruntung. Mereka menjadi rentan terhadap berita tentang ekstremisme dan semakin ditarik ke dalamnya. Saat mereka menjadi terpisah dari keluarga, maka akan ada orang tua yang putus asa, berjuang untuk memahami semua itu. Seolah-olah bukan sesuatu yang cukup buruk, kecurigaan dapat menghinggapi mereka. Mereka mungkin tidak diinginkan di masjid, dipertanyakan di sekolah, dan berulang kali diinterogasi oleh polisi.

Yasmin beruntung. Orangtuanya memahami. Mereka mendukung putri mereka, membantu dia untuk mengerti, dan menguatkan dia untuk membiarkan hal itu berlalu. Farzana, ibu Yasmin, melakukan hal yang seperti itu juga. Ia bekerja untuk korban kejahatan-kebencian, untuk orang-orang yang salah diidentifikasi sebagai ekstremis, untuk orang-orang muda yang marah karena perlakuan yang diskriminatif, dan ia membantu mereka memproses pengalaman mereka. Daripada membiarkan mereka untuk menjadi terasing dan terpisah, dan menjadi calon-calon yang potensial untuk dipersiapkan menjadi ekstremis, Farzana berusaha untuk menarik mereka kembali ke jalur yang benar.

Saya bertanya kepada Farzana bagaimana orang Kristen dapat berdoa untuk korban kejahatan-kebencian, untuk orang-orang yang terasing, dan bagi keluarga-keluarga yang terkena dampak atas anggotanya yang sedang tersesat menuju kegiatan ekstremisme. Ia segera menjawab, "Apa yang akan Yesus lakukan? Jangan sembarangan mengutuk. Jangkaulah mereka dengan cinta dan sikap menerima. Pada kesempatan lain, saya membaca bahwa Yesus datang kepada kita di saat kita berada dalam situasi yang paling gelap. Tanyakan, bagaimana Dia bersedia datang untuk semua ini?"

Mari kita berdoa:

- Untuk kaum remaja seperti Yasmin, yang harus mengarungi tahun-tahun sulit di bawah sorotan kecurigaan.

- Untuk pekerjaan orang-orang seperti Farzana, yang membantu mencegah orang-orang muda tersesat ke dalam kelompok-kelompok ekstremis.

- Bagi keluarga yang kehilangan anak-anak mereka yang masuk ke kegiatan terorisme, dan bagi mereka yang hidup di bawah ancaman kejahatan-rasial.

Puisi Yasmin

Melangkah menyusuri tempat yang ramai,
Tatapan semu pada setiap wajah yang menghakimi,
untuk tindakan yang dilakukan dalam namaku
Anda berpikir bahwa saya dalam keadaan tercela
Anda menolak tangan saya
Anda mengabaikan pelukan saya
Apa yang saya lakukan sehingga saya layak menerima
kebencian ini?
Saya mengenakan jilbab
Ayah saya berjenggot
Anda mengejek saya dan mengatakan saya aneh
saya berpuasa, saya berdoa, saya rela,
Namun masih juga saya tidak diterima di sini,
Menjalankan iman saya dalam suasana ketakutan
Teroris mencederai Islam
saat mereka menghancurkan dan
merusak orang biasa,
Ini bukan iman saya dan juga bukan Islam,
Jangan anggap seperti itu adanya
Kami menghendaki damai
Jangan tahan saya untuk bertanggung jawab atas kegilaan ini
Karena seperti semua yang ada di sekeliling kita
Anda akan melihat hal yang sama.

Tidak ada komentar: