Sabtu, 27 Mei 2017

SEBUAH KELUARGA YANG BERPUASA

40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA -- SABTU, 27 MEI 2017

SEBUAH KELUARGA YANG BERPUASA

Saya teringat hari pertama saya mulai berpuasa. Pada waktu itu, usia saya baru menjelang tujuh tahun. Akan tetapi, saya sangat senang sekali diperlakukan layaknya seorang dewasa. Pada tahun itu, bulan Ramadan berlangsung selama liburan sekolah, itu berarti saya bisa tidur sepanjang hari jika saya menginginkannya. Ibu membangunkan saya pukul 03.00 dini hari untuk sarapan sebelum matahari terbit. Kami menyantap yoghurt dan telur dadar berbumbu dengan chapati, dan minum banyak chai. Menjelang matahari terbit, kami melakukan sembahyang yang pertama pada hari itu secara bersama-sama, sebelah menyebelah, saya dan ibu saya. Entah bagaimana saya merasa lebih dekat dengan ibu pada hari itu ketimbang hari-hari sebelumnya.

Kemudian, kami kembali lagi ke tempat tidur, dan puasa pun telah dimulai. Sepanjang waktu berikutnya pada hari itu, kami bermain-main, dan saya membantu ibu memasak untuk menyiapkan makanan iftar (makanan untuk buka) pada saat matahari terbenam.

Saya merindukan datangnya hari-hari ketika kami duduk bersama di sekitar alas/lapik kain/tikar yang ditebarkan di lantai berikut berbagai hidangan makanan kesukaan saya, yang hanya dimasak pada saat yang khusus ini. Inilah satu-satunya kesempatan saat kami, sepuluh bersaudara, makan bersama-sama. Ini terasa seperti sebuah perayaan yang mengikat kebersamaan kami dan membuat saya merasa bahwa kami adalah keluarga yang sejati. Pada hari Jumat, ayah saya mengundang beberapa temannya untuk berbuka puasa bersamanya dan kemudian kaum pria akan duduk dan makan di sebuah ruangan tersendiri, dan kami kaum wanita harus menunggu mereka sampai selesai makan sebelum kami sendiri boleh makan setelah sepanjang hari berpuasa.

Selama bulan Ramadan ini, rumah terasa lebih sunyi di sepanjang hari. Kami sering kali merasa lapar dan begitu letih untuk bercakap-cakap seorang dengan yang lain. Kami lebih sering berdoa, membaca Alquran atau tiduran dan menonton TV. Juga timbul ketegangan yang meningkat di sepanjang hari, khususnya saat kami menjadi semakin lelah sejalan dengan berlalunya minggu demi minggu. Akan tetapi, kami semua berusaha dengan cara kami masing-masing untuk melakukan apa yang benar di hadapan Allah, mengerjakan tanggung jawab kami, dan berusaha mendapatkan berkat-berkat-Nya sepanjang bulan ini dengan lebih tekun dibandingkan waktu-waktu yang lain di sepanjang tahun.

Mari kita berdoa:

- Bagi mereka yang memasak makanan meskipun mereka sendiri sedang berpuasa supaya saat mereka menyiapkan makanan, mereka mendapatkan inspirasi tentang Yesus sebagai Roti Kehidupan.

- Untuk keluarga-keluarga agar mereka bertemu Yesus pada bulan ini saat mereka makan dan berdoa bersama. Dengan demikian, mereka mengenal Dia sebagai Pribadi yang memberikan air kehidupan agar mereka tak akan haus lagi.

- Supaya ada kedamaian dalam keluarga-keluarga dan di antara anggota keluarga saat mereka menengadah kepada Tuhan untuk memohon berkat.


FOKUS DOA 1,1,1.

Somali in Somalia

Somali in Somalia
The coming of Arab traders to the area of Somalia in the 10th century significantly shaped much of modern Somali culture. The vast majority of Somalis converted to Islam at that time. Tribal and political rivalries continue to afflict the Somali people into the 21st century as no central government has managed to unite the disparate and sometimes hostile tribes.
Ministry Obstacles
Somalia is a dangerous place to live and work, unstable.
Outreach Ideas
Christians need to help with the material and physical needs of the Somalis.
Pray for the followers of Christ
There are a few followers of Christ among the Somalis; they need sustained prayer. Pray they will submit to one another out of reverence for Christ.
Pray for the entire people group
Pray for peace for the peoples of Somalia, and for a government that can bring stability and safety.
Scripture Focus
"And the gospel must first be preached to all the nations." Mark 13:10

 

People Name: Somali
Country: Somalia
10/40 Window: Yes
Population: 8,133,000
World Population: 19,582,000
Language: Somali
Primary Religion: Islam
Bible: Complete
Audio NT (FCBH): Yes
Jesus Film: Yes
Audio Recordings: Yes
Christ Followers: Few, less than 2%
Status: Unreached
Progress Level:

 

KADOS -- Edisi 360 (29 Mei -- 4 Juni 2017)

KADOS -- Edisi 360 (29 Mei -- 4 Juni 2017)

Salam sukacita dalam Tuhan,

Tidak ada hal yang terlalu kecil untuk kita doakan. Setiap hal yang telah Tuhan taruh dalam hati kita untuk didoakan, mari kita doakan dengan kesungguhan hati. Dalam minggu ini, kita juga akan mendoakan pokok-pokok doa di bawah ini. Kiranya kita dapat terus setia dan rindu menghampiri takhta-Nya. Mari berdoa. Tuhan Yesus memberkati.

Pemimpin Redaksi KADOS,
Santi T.
< santi(at)in-christ.net >


29 Mei 2017 -- Aktivis Pemuda di Indonesia

Keberadaan aktivis sangat penting dalam sebuah pelaksanaan atau pergerakan sehingga tujuan dari pergerakan tersebut bisa tersampaikan dan terpenuhi. Akan tetapi, meski ada banyak aktivis di Indonesia, tidak semuanya bergerak untuk gerakan yang positif dalam masyarakat. Oleh karenanya, kita perlu bersikap bijaksana ketika ingin memberikan dukungan kepada aktivis/gerakan tertentu. Sebagai orang percaya, marilah kita berdoa kepada Tuhan Yesus untuk para aktivis Indonesia supaya pergerakan yang mereka lakukan membawa hasil yang baik bagi masyarakat. Berdoalah pula bagi aktivis-aktivis Kristen di Indonesia supaya mereka tidak hanya aktif mendukung sebuah pergerakan, tetapi biarlah mereka juga dapat menjadi garam dan terang bagi Indonesia.

30 Mei 2017 -- Orang Tua dan Anak

Anak dalam sebuah keluarga merupakan anugerah dari Tuhan untuk kita jaga dan kenalkan kepada Tuhan. Dalam hal ini, pola didik dan pola asuh dari keluarga kepada anak sangat memengaruhi tumbuh kembang anak. Kadang kala, pola asuh orang tua tidak hanya memengaruhi cara berelasi anak, tetapi juga kebiasaan atau karakter anak. Marilah kita berdoa kepada Tuhan Yesus supaya Ia memberikan hikmat dan memampukan para orang tua untuk mengasuh dan mendidik anak-anak mereka dengan bijaksana dan benar. Kiranya para orang tua Kristen bisa mengenalkan anak-anak mereka kepada Allah sejak dini sehingga kehidupan mereka bisa lebih terarah sesuai dengan firman Tuhan.

31 Mei 2017 -- Infrastruktur Sekolah di Desa

Pendidikan adalah hak setiap orang. Bahkan, di desa pun hal ini terus diusahakan dengan maksimal supaya warga desa bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Marilah kita berdoa kepada Tuhan Yesus supaya pemerintah semakin peduli untuk mendukung tersedianya infrastruktur bagi setiap sekolah di desa. Berdoalah pula supaya setiap orang yang terlibat dalam proyek penyediaan infrastruktur ini, khususnya mereka yang sudah percaya Kristus, dapat melakukan tugasnya dengan bertanggung jawab sehingga infrastruktur sekolah dapat disediakan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendukung pendidikan warga desa.

1 Juni 2017 -- Hari Lahir Pancasila

Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara Republik Indonesia lahir pada tanggal 1 Juni 1945. Melalui Keppres Nomor 24 tahun 2016, pemerintah menetapkan 1 Juni sebagai hari libur nasional dengan tujuan bukan hanya sekadar untuk memperingati hari bersejarah ini, melainkan juga untuk menerapkannya dalam kehidupan masyarakat Indonesia secara nyata. Mari kita berdoa kepada Tuhan Yesus supaya masyarakat Indonesia merespons hari bersejarah ini dengan arif sehingga nilai-nilai baik dari Pancasila dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berdoalah pula supaya setiap orang percaya juga turut aktif dan mengambil bagian dalam penerapan Pancasila sehingga keberadaan orang percaya boleh menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya.

2 Juni 2017 -- Para Pasien di Ruang ICU

Intensive Care Units (ICU) adalah tempat yang disediakan untuk melayani pasien yang memerlukan penanganan intensif, pemantauan ketat, dan dukungan dari peralatan dan obat khusus untuk memastikan fungsi tubuh normal. Pasien di ruangan ini sangat memerlukan dukungan dari banyak pihak, terutama orang-orang terdekat, setidaknya untuk menolong secara psikis ketika dirawat di sana. Mari kita berdoa untuk setiap pasien yang sedang dirawat di ruang ICU, khususnya mereka yang sudah percaya kepada Kristus. Kiranya Tuhan memberi kekuatan dan pengharapan bagi mereka sehingga mereka tidak menyerah dalam sakitnya. Berdoalah pula supaya pasien yang sedang menjalani perawatan dapat melewati setiap proses penyembuhan dengan hati yang sabar dan penuh pengharapan.

3 Juni 2017 -- Buku-Buku Kristen di Indonesia

Semakin berkembangnya teknologi membuat banyak orang beralih ke buku digital dan mulai menghindari buku cetak. Kenyataan ini menjadikan peminat buku cetak semakin berkurang. Hal ini juga terjadi pada peminat buku-buku Kristen. Meski demikian, peminat buku cetak masih ada karena melalui buku cetak, pembaca tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi bisa memiliki buku secara fisik. Mari kita berdoa supaya setiap penerbit dan pengarang buku Kristen tidak mudah menyerah menghadapi kenyataan ini, tetapi semakin giat dan kreatif memproduksi buku dan memasarkannya.

4 Juni 2017 -- Alumni Peserta Pelatihan SABDA

Pelayanan SABDA telah melakukan banyak pelatihan di berbagai kota, baik berupa pelatihan penggunaan Software SABDA maupun #Ayo_PA!. Selain kedua pelatihan ini, SABDA juga sering mempresentasikan topik-topik yang berkaitan dengan pelayanan digital dan bahan-bahan guna memperlengkapi pelayanan Kristen di Indonesia. Setiap peserta yang pernah mengikuti pelatihan SABDA selalu kami tindak lanjuti dengan berbagai cara, misalnya dengan mengundang mereka terlibat dalam komunitas online YLSA, mengirimkan bahan-bahan pelayanan melalui buletin elektronik, dan memberikan informasi-informasi terbaru dari pelayanan YLSA. Marilah kita berdoa kepada Tuhan Yesus supaya para alumni peserta pelatihan SABDA terus setia untuk mempelajari firman Tuhan dan mengenal Dia melalui alat-alat dan bahan-bahan yang YLSA sediakan.


Kontak: doa(at)sabda.org
Redaksi: Santi T., Margaretha I., Rostika, dan Kunarti
Berlangganan: subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
(c) 2017 -- Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org >

KAUM ANDALOUSE DI ZAGHOUAN, TUNISIA

40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA -- MINGGU, 28 MEI 2017

KAUM ANDALOUSE DI ZAGHOUAN, TUNISIA

Kota pegunungan Zaghouan terletak pada 45 mil utara kota Tunis, ibu kota Tunisia. Sebagian besar dari 40.000 orang yang mendiami kawasan ini memiliki leluhur yang berasal dari orang-orang Muslim Andalusia yang dipaksa oleh orang Spanyol untuk melarikan diri pada masa pengusiran orang Muslim selama abad ke-17. Sungguh merupakan sesuatu yang mengejutkan bahwa Islam tersebar luas di Spanyol selama sembilan abad.

Para pengemudi taksi, penjaga-penjaga toko, ibu-ibu, dan anak-anak akan begitu fasih untuk menceritakan kepada saudara tentang sejarah mereka yang membanggakan.

Mereka menceritakan tentang pelarian mereka ke Zaghouan, dengan harta mereka yang paling berharga yang tersembunyi di dalam permen putih, kecil, dan bulat, agar tidak dirampok di perjalanan mereka yang sulit. Sekarang, Zaghouan terkenal karena kue kering kecil dan bundar, yang disebut Kaak Warka, terbuat dari adonan dan almond yang dicampur dengan air mawar.

Bagi orang Tunisia, Zaghouan adalah tempat tamasya yang terkenal. Pengunjung dapat menemukan sisa reruntuhan Romawi yang megah. Pegunungan ini berhutan dan indah, dan sering kali berselimut salju pada saat musim dingin. Dahulunya, orang-orang asing biasa datang ke kawasan ini, tetapi semenjak serangan teroris pada tahun 2015, pariwisata di Tunisia mengalami dampak yang buruk, banyak hotel yang tutup. Penduduk setempat mencemaskan para wisatawan tidak akan datang kembali. Sejak revolusi 2011, banyak warga Tunisia tidak yakin akan apa yang bisa dibuat dari tempat baru mereka di dunia ini, dan mereka tidak percaya pada pemerintah mereka yang sekarang.

Selama masa pemerintahan Kaisar Romawi Hadrian, saluran air sepanjang 82 mil dibangun untuk memasok air dari Zaghouan ke kota Carthage. Kuil Air masih berdiri megah di lereng bukit, tempat sumber air pernah memancar di sana, dan sekarang sangat kering, ini menjadi pengingat akan air yang bermakna rohani yang diberikan di tanah yang kering ini. Baru-baru ini, tim doa mengunjungi daerah ini dan berdoa agar kehidupan akan memancar kembali dari Zaghouan, dan agar negeri yang kering dan tandus ini akan menemukan harapannya dalam "Sumber Kehidupan Kekal".

Mari kita berdoa:

- Untuk stabilitas dan perdamaian di Tunisia dan untuk kepemimpinan yang bijaksana.

- Agar sumber-sumber air kehidupan mengalir masuk dan keluar dari Zaghouan, seperti yang Yesus jelaskan dalam Yohanes 4.

British Investigators Arrest More Suspects as More is Learned about Manchester Bomber

British Investigators Arrest More Suspects as More is Learned about Manchester Bomber

By Michael Ireland, Chief Correspondent for the ASSIST News Service (www.assistnews.net)
MANCHESTER, ENGLAND (ANS - May 27, 2017) -- British authorities are making headway in trying to contain the network they believe is behind the Manchester attack as it emerged that the suicide bomber, Salman Abedi, reportedly spoke to his brother in Libya just 15 minutes before he detonated his explosives, according to CNN.
"We are following up on the network, rolling it up, trying to contain it. As you've seen from the number of arrests, we are on the right track to try to contain it," UK Security Minister Ben Wallace told CNN in Manchester on Friday. "In the end, you get to the bottom of a network."
mi Manchester suicide bomber Salman Abedi 05 27 2017CNN has reported that investigators continue to work around the clock to track down associates of Abedi, a 22-year-old Briton of Libyan descent, amid fears he is part of a network plotting further mayhem.
On Friday, authorities arrested a man from Manchester's Rusholme neighborhood. Then, two more men were arrested early Saturday, police said in a statement. The men were taken into custody after officers carried out a controlled explosion to enter a home in the Cheetham Hill area of central Manchester.
CNN said these actions brought the total number of people arrested in the investigation to 13, with 11 still in custody. Two people have been released without being charged, Greater Manchester police said.
Media reports say Salman Abedi’s brother, Hashim Ramadan Abu Qassem al-Abedi, was arrested in Libya on Tuesday.
Abedi’s younger brother -- detained in Libya in the aftermath of the bombing – is reported to have known of his brother's movements and about the plot, Ahmed Ben Salem, spokesman for the Special Deterrence Force in Tripoli, told the private broadcaster, Libya's Channel, on Thursday night.
Ben Salem said the brothers spoke on the phone just minutes before the attack at a concert at Manchester Arena, but Hashim told his Libyan interrogators that he did not know details about where and when the blast would be.
mi hashim ramadan abu qassem al abedi 05 27 2017CNN reports the Special Deterrence Force in Tripoli, a militia nominally under the control of Libya's interior ministry, arrested Hashim al-Abedi a day later on suspicion of links to ISIS otherwise known as Islamic State (IS). The militia also arrested the brothers' father, Ramadan al-Abedi.
CNN said that earlier this week the militia said Hashim had admitted -- under interrogation -- that he and Salman were members of IS. It also said Hashim was in Manchester during the planning for the attack and that he had been aware of the plot.
Ben Salem told Libya's Channel that Salman Abedi entered Libya on April 19 and left on May 17, telling his family that he was going to Saudi Arabia to perform the Umrah pilgrimage. It was a deception, and only his brother Hashim knew that Salman actually returned to the UK, according to Ben Salem.
Asked if there was any indication Salman Abedi had received training in Libya or planned an attack inside Libya, Ben Salem said, "I don't think so." Based on what the bomber's brother has told the militia, "everything was prepared in Manchester" since the end of 2016, he said.
US officials told CNN this week that it is likely Salman Abedi received some IS training by traveling to Syria in the months before the bombing, according to information gathered in the preliminary investigation.
Monday's attack on concert-goers leaving an Ariana Grande show killed 22 people, many of them children, and injured dozens more.
In her first comments since the attack, Grande said Friday in a note on Twitter that she is sorry for the "pain and fear" her fans are feeling. She said the fans killed Monday will be on her mind and in her heart forever.
"I will think of them with everything I do for the rest of my life," said the singer, who also announced Friday that she will hold a benefit concert in honor of the victims of the Manchester attack.
What is his family background?
Prayer vigil in ManchesterBritain’s Telegraph newspaper (www.telegraph.co.uk) reports Abedi was born and raised in Manchester in 1994, the second youngest of four children, and grew up in a Muslim household, but matured into a university dropout with an appetite for bloodshed.
His parents, mother Samia Tabbal and father Ramadan Abedi, a security officer, are Libyan-born refugees who fled to the UK to escape Gaddafi. It is thought they returned in 2011 following Gaddafi’s overthrow.
Abedi is thought to have an older brother Ismail Abedi, who was born in Westminster in 1993, a younger brother Hashim Abedi, and a sister Jomana, whose Facebook profile suggests she is from Tripoli and lives in Manchester.
A family friend, who asked not to be named, said the family were known to the Libyan community in the city and described Abedi as "normal." He told the Press Association (PA): "He was always friendly, nothing to suggest (he was violent). He was normal, to be honest."
Abedi is believed to have attended the Manchester Islamic Center, also known as the Didsbury Mosque.
Sheikh Mohammad Saeed said he believed Abedi had displayed a "face of hate" after the imam gave a sermon denouncing terrorism.
Abedi's education
The Telegraph reported that Abedi went to Burnage Academy for Boys between 2009 and 2011, and then on to Salford University in 2014 where he studied business management before dropping out, according to a source.
The Telegraph source said Abedi began his course in 2014 and attended lectures for two years but then stopped going. He would have graduated this summer. He did not live in university accommodation, had not been in any trouble at the university, and was not on any radar for pastoral or social care.
It is understood Abedi was not known to have participated in any clubs or societies during his time in higher education and never met with the resident imam.
Where did he live?
girl being helped after Manchester bombingHe was registered as living at the Abedi family home Elsmore Road, south Manchester as recently as last year, where plainclothes police raided a downstairs red-bricked semi-detached property on Tuesday.
The newspaper said neighbors recalled an abrasive, tall, skinny young man who was little known in the neighborhood, and often seen in traditional Islamic clothing. He is thought to have lived at a number of addresses in the area, including one in Wilbraham Road, where officers arrested a man on Tuesday.
Abedi previously lived with his parents and a brother.
What have the neighbors said?
Neighbors in Elsmore Road told how Abedi had become increasingly devout and withdrawn.
Lina Ahmed, 21, said: “They are a Libyan family and they have been acting strangely. A couple of months ago he [Salman] was chanting the first kalma [Islamic prayer] really loudly in the street. He was chanting in Arabic.
“He was saying ‘There is only one God and the prophet Mohammed is his messenger.’”
A family friend, who described the Abedis as “very religious,” said most of the family had returned to Libya, leaving only Salman and his older brother Ismail behind.
“They have not been there for quite a while. Different people come and go,” said Alan Kinsey, 52, a car-delivery driver who lives across the street. Kinsey’s wife, Frances, 48, a care worker, said she believed that the parents had left before Christmas and just one or two young men had been living in the property.
Kinsey said a huge flag, possibly Iraqi or Libyan, had been hanging from their house. “There was a large Iraqi flag hanging out the window but we never thought anything of it,” Kinsey added. “We thought it was about football or a protest at home or something.”
How did he become radicalized?
Vigil at Manchester Peter WoodingAbedi has "proven" links with Islamic State, according to France's interior minister as cited by The Telegraph.
Gerard Collomb told French television that both British and French intelligence services had information that Abedi had been in Syria. Collomb said: "All of a sudden he travelled to Libya and then most likely to Syria, became radicalized and decided to commit this attack."
Abedi had been a "regular kid," who went out and drank until around a year ago when he "dropped off the radar," the Times reported the bomber's former landlord's nephew as saying.
The paper quoted a friend as saying he had returned from a three-week trip to Libya in recent days.
Abedi's trips to Libya are now subject to scrutiny, including links to jihadists.
A group of Gaddafi dissidents, who were members of the outlawed Libyan Islamic Fighting Group (LIFG), lived within close proximity to Abedi in Whalley Range.
Among them was Abd al-Baset Azzouz, a father-of-four from Manchester, who left Britain to run a terrorist network in Libya overseen by Ayman al-Zawahiri, Osama bin Laden’s successor as leader of al-Qaeda.
Azzouz, 48, an expert bomb-maker, was accused of running an al-Qaeda network in eastern Libya. The Telegraph reported in 2014 that Azzouz had 200 to 300 militants under his control and was an expert in bomb-making.
How was he identified?
It has emerged in US media reports that the bomber was identified by a bank card in his pocket.
According to NBC News, citing a US intelligence official, members of the bomber's family warned security officials about him in the past, saying that he was “dangerous.”
The official told the broadcaster that Abedi likely "had help" making the “big and sophisticated bomb."
Has his family spoken?
Speaking for the first time about his son's death, Abedi's father said: "We don't believe in killing innocents. This is not us."
Speaking from Tripoli, he told AP this his son was innocent and confirmed that British police had arrested another of his sons, believed to be a 23-year-old arrested in south Manchester on Tuesday.
Abedi's sister, Jomana, suggested he carried out the attack for revenge on US air strikes in Syria.
Shock after Manchester terror attack“I think he saw children -- Muslim children -- dying everywhere, and wanted revenge," she told the Wall Street Journal. "He saw the explosives America drops on children in Syria, and he wanted revenge. Whether he got that is between him and God.”
His brother Hashim reportedly knew he was planning the attack. "His brother felt there was something going on there in Manchester and he thought his brother would do something like bombing or attack. So after that, he told us, 'Having internet, I see the attack in Manchester and I knew that's my brother'," a spokesman for Libyan authorities told BBC2's Newsnight.
He revealed that Abedi's younger brother Hashim had been investigated for about a month and a half over suspicions that he was linked to IS.
"We were not quite sure about this, but when we arrested and we asked him, he told us, 'I have ideology with my brother'. Hashim told us, 'I know everything about my brother, what he was doing there in Manchester.'"
CNN's Hala Gorani reported from Manchester and Laura Smith-Spark wrote and reported from London. CNN's Lonzo Cook, Jomana Karadsheh, Mariano Castillo, James Gray, Richard Allen Greene, Sarah Chiplin and Barbara Starr contributed to the original CNN report. Martin Evans, Victoria Ward, Robert Mendick, (Chief Reporter), Ben Farmer, (Defense Correspondent), Hayley Dixon and Danny Boyl, contributed to the original Telegraph report.
Photo captions: 1) Salman Abedi (Facebook). 2) Hashim al-Abedi (CNN) 3) Messages left at Manchester vigil. 4) Injured girl being helped to safety. 5) Scene at the vigil (Peter Wooding). 6) Shock in the face of a woman after the bomb blast. 7) Michael Ireland.
Ireland Michael FEB.2009 320x276About the Writer: Michael Ireland is a volunteer internet journalist serving as Chief Correspondent for the ASSIST News Service, as well as an Ordained Minister who has served with ASSIST Ministries and written for ANS since its beginning in 1989. He has reported for ANS from Jamaica, Mexico, Nicaragua, Israel, Jordan, China, and Russia. Please consider helping Michael cover his expenses in bringing news of the Persecuted Church, by logging-on to: https://actintl.givingfuel.com/ireland-michael
** You may republish this or any of our ANS stories with attribution to the ASSIST News Service (www.assistnews.net). Please also tell your friends and colleagues that they can get a complimentary subscription to ANS by going to the website and signing up there.

BERDOA BAGI KELUARGA MUSLIM

40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA -- MINGGU, 28 MEI 2017

BERDOA BAGI KELUARGA MUSLIM

Keluarga bersifat kompleks/rumit. Keluarga kita sangat menentukan siapa diri kita dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Tak ada keluarga yang sama, dan ketika kita menyelidiki kehidupan keluarga di dunia Muslim, kita akan menemukan perbedaan-perbedaan maupun kesamaan-kesamaannya.

Dalam edisi ini, kita akan menyoroti keanekaragaman yang ada dalam keluarga-keluarga Muslim. Seperti halnya yang terjadi di keluarga-keluarga Kristen, demikian pula budaya, tradisi, pendidikan, pengalaman, dan kesempatan-kesempatan memengaruhi bagaimana keluarga Muslim itu menjalani kehidupannya di seluruh dunia. Dari generasi ke generasi, keluarga-keluarga menanggapi dan menyesuaikan diri dengan perubahan budaya, masyarakat, dan teknologi yang berlangsung cepat maupun lambat. Kita akan melihat bagaimana hal ini berpengaruh kuat dalam keluarga-keluarga Muslim di berbagai wilayah.

Saudara juga akan melihat berbagai hal yang bersifat umum: korban-korban persembahan dilakukan oleh orangtua agar anak yang dikasihinya memperoleh peluang yang lebih baik; kecemasan-kecemasan terhadap anak-anak yang sedang bertumbuh dalam keterlibatannya dalam masyarakat yang semakin tidak menentu; kesukacitaan dan pergumulan dibagikan oleh pasangan yang telah menikah; dan perhatian terhadap orangtua yang sudah Ianjut umur. Kita berdoa dengan memahami pokok-pokok permasalahan mereka.