Sabtu, 27 Mei 2017

Masa Depan Misi

Masa Depan Misi -- Edisi 05/Mei/2017
 
DARI REDAKSI: KEGERAKAN MISI MASA DEPAN
Shalom,
Bagaimana keadaan kegerakan misi pada 5 atau 10 tahun mendatang? Mengenai keadaan kekristenan mendatang, bisa kita lihat dari keadaan gereja dan kegerakan misi pada hari ini. Kegerakan misi Kristen terus bergerak di berbagai celah yang terbuka dalam banyak bidang. Sikap beberapa gereja yang mulai membuka mata menjadi faktor pendukung penting untuk mengerjakan misi dari Tuhan. Misionaris-misionaris muda terus dilatih dan dikirim menuju daerah-daerah yang begitu terpencil dan sulit dijangkau untuk mewartakan Kabar Baik. Syukur kepada Tuhan, sekarang ini, dunia misi juga sangat terbantu dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi yang hampir menyentuh seluruh masyarakat. Dengan demikian, penjangkauan jiwa bisa dikerjakan secara efektif dan efisien, dan hal ini merupakan pertolongan Tuhan bagi utusan misi.
Pada bulan ini, redaksi e-JEMMi menyajikan sebuah artikel bertema masa depan misi dan profil salah satu suku bangsa di negara Venezuela , salah satu suku bangsa yang patut mendapat perhatian serius dari gereja. Tuhan sendiri yang akan menggerakkan gereja-Nya pada hari ini dan masa depan untuk mengerjakan keselamatan yang datang dari-Nya. Siapkah Anda? Selamat membaca, Tuhan Yesus memberkati.
Ayub T.
Pemimpin Redaksi e-JEMMi,
Ayub T.
 
ARTIKEL: MASA DEPAN MISI KRISTEN DUNIA
Judul artikel ini menyesatkan. Misi seperti apa yang sedang kita bicarakan? Misi Kristen? Misi dunia? Jika salah satu dari kedua misi tersebut adalah fokus diskusi kita, misi semacam itu tidak memiliki masa depan. Jika fokusnya adalah misi Allah, kita bisa berdiskusi tentang masa depannya. Kita bisa berdiskusi tentang bagaimana misi itu terkait dengan seluruh dunia, dan peranan apa yang dimiliki pengikut Kristus pengikut Kristus dalam misi tersebut.
Bertahun-tahun yang lalu, perusahaan-perusahaan melihat perlunya menyatakan, baik visi maupun misi organisasi mereka dengan jelas. Kedua faktor ini perlu dinyatakan dengan jelas sehingga setiap orang yang terkait dengan bisnis perusahaan dapat mengerti dan menerima misi perusahaan, sambil mereka berusaha melayani klien mereka.
Allah sudah lebih dulu memahami semua jargon perusahaan itu. Dr. W.O. Carver, seorang profesor misi terkemuka selama 50 tahun di Southern Baptist Theological Seminary, selalu menanyakan kepada murid-murid di kelas-kelas Introduction to Missions dua pertanyaan ini: "Apa yang menjadi pesan utama Alkitab?" dan "Apakah Alkitab berbicara tentang segala hal?" Seluruh sisa kuliah yang ia berikan, ia gunakan untuk menunjukkan bahwa Alkitab berbicara tentang satu hal -- misi Allah.
Dalam buku terbarunya yang berjudul "The Mission of God", Christopher J.H. Wright menyarankan bahwa kita perlu membaca seluruh isi Alkitab dalam perspektif misi Allah yang melampaui batas. Memahami Alkitab dari sudut pandang misi berarti untuk "menerima bahwa sudut pandang Alkitab terhadap dunia menempatkan kita di tengah-tengah narasi (pengisahan) alam semesta, yang di baliknya berdiri misi Allah yang hidup". Gagasan ini dinyatakan dalam sebuah narasi yang cukup jelas sehingga siapa pun yang mengklaim sebagai pengikut Kristus, akan secara antusias menjalankan misi Sang Pemilik/CEO.
Wright menyatakan bahwa narasi besar ini mengungkapkan tiga realitas: realitas Allah, realitas narasi alam semesta, dan realitas manusia. Maka dari itu, "otoritas bagi misi kita mengalir dari Alkitab karena Alkitab mengungkapkan realitas yang padanya misi kita dilandaskan".
Allah menciptakan segala sesuatu secara sengaja, dengan tujuan. Kita tahu siapa Allah. Kita tahu siapa diri kita. Kita tahu di mana kita berada. Kita tahu masalahnya. Kita tahu solusinya. Bagaimana kita tahu? Karena Allah telah menceritakannya sejak masa penciptaan. Allah menciptakan para co-manager ciptaan Allah, Adam dan Hawa. Ketika mereka mengambil keputusan egosentris yang mengakibatkan mereka kehilangan peranan dan tempat tinggal asli mereka, kasih karunia Allah memelihara mereka serta misi awal mereka.
Ketika dosa umat manusia begitu besar sehingga tidak ada satu pun yang layak dipelihara, Allah berfokus pada seorang pria yang saleh, yaitu Nuh. Ketaatan Nuh bertemu dengan kasih karunia Allah, dan misi tersebut tetap terjaga. Dan, umat manusia saat itu diberi mandat untuk menyebar dan memenuhi bumi.
Ketika umat manusia memutuskan untuk menetap, bukannya menyebar, dan membangun sebuah menara sebagai monumen atas kecerdasan pikiran mereka, Allah menghakimi dan menyerakkan mereka. Melalui kisah ini, kita dibuat bertanya-tanya. Di manakah kasih karunia? Akankah misi Allah kembali ke jalurnya?
Kitab Kejadian pasal 12 memberikan jawabannya. Allah memanggil Abraham. Dari keturunannya, Allah memanggil suatu umat yang harus terpisah dan terlepas dari cara hidup dunia, tetapi masih tinggal di dalam dunia. Mereka adalah kumpulan co-manager misi Allah, kaum Adam, imam-imam yang akan menjadi jembatan yang menghubungkan Allah dengan semua ciptaan. Akan tetapi, abad-abad yang telah berlalu sepertinya mengaburkan perbedaan antara "umat" yang istimewa ini dan umat-umat lainnya. Apakah masih ada sisa dari mereka yang mengerti mengapa Allah memilih mereka untuk menjalankan misi-Nya?
Ketika waktunya sudah genap, Allah kemudian menyatakan Firman yang paling jelas yang pernah diucapkan-Nya. Misi Allah menjadi daging. Misi Allah dan misi Yesus adalah sama. Sama seperti Allah bagi suatu umat pilihan yang adalah ciptaan-Nya, begitu juga Yesus bagi "perpanjangan" Israel yang kita sebut sebagai "gereja". Selama 2000 tahun terakhir, gereja, sebagai hamba misi Allah, telah mengalami pasang surut, seperti yang dialami oleh keturunan-keturunan Abraham. Setia -- tidak setia. Benar, gereja telah dirintis di setiap benua dan bangsa yang kita ketahui, mulai dari gereja yang sangat lemah sampai gereja yang kelihatannya kuat. Meskipun demikian, apakah itu berarti bahwa tugas gereja telah selesai? Jika tidak, seperti apa masa depan misi Allah di bumi dan alam semesta ini?
Pada zaman ini, angin Roh Kudus berembus kembali. Banyak gereja di dunia Barat bahkan tidak menyadari ketika pergeseran besar sedang terjadi. Belahan bumi selatan bangkit sebagai basis dari apa yang sekarang ini kita sebut sebagai "Majority World Church". Dari semua orang Kristen di seluruh dunia, 75% di antaranya tinggal di belahan bumi selatan dan timur. Mayoritas orang percaya tidak berbicara bahasa Inggris. Era kerasulan baru telah tiba. Orang-orang percaya di Afrika, Amerika Latin, dan Asia menanggapi Alkitab dengan serius. Mereka terlibat dalam apa yang mereka baca, dan meyakini bahwa Alkitab yang mereka baca pada masa kini sama relevannya dengan Alkitab ketika pertama kali ditulis. Mereka telah membuang gaya Barat dalam "pelaksanaan misi". Mereka bergerak sesuai dengan arahan Roh Kudus.
Mari kita melihat beberapa daerah spesifik yang menggambarkan pergerakan Roh Kudus.
AFRIKA
Pada tahun 1900, terdapat sebanyak 8,7 juta orang Kristen di Benua Afrika. Pada tahun 2000, terdapat sekitar 350 juta orang Kristen. Menurut Lamin Sanneh, seorang cendekiawan dan profesor asli Afrika di Yale Divinity School, pada tahun 1900 jumlah orang Muslim melebihi jumlah orang Kristen dengan rasio 4:1. Pada tahun 2000, rasionya hampir 1:1. Sanneh menghubungkan ledakan pertumbuhan ini dengan beberapa faktor: 1) Adanya perluasan wilayah, setelah kolonialisme, selama masa kebangkitan nasional, 2) efek menyeluruh penerjemahan Alkitab dalam bahasa-bahasa di Afrika, dan 3) para pemimpin Afrika yang melangkah maju untuk memimpin perluasan wilayah tanpa hambatan dari pihak asing. (Sanneh, Whose Religion Is Christianity) Bukankah Roh nyata bekerja dalam semua peristiwa ini? Jika kecenderungan-kecenderungan tersebut terus berlanjut, pada tahun 2050, akan terdapat 600 juta orang Kristen di Benua Afrika.
TIONGKOK
Christianity Today, dalam edisi 21 September 2007, melaporkan bahwa sebuah hasil penelitian yang dibacakan pada rapat pemerintah baru-baru ini, mengindikasikan bahwa terdapat setidaknya 130 juta orang Kristen di Tiongkok saat ini, termasuk sekitar 20 juta orang Katolik. Sebagai gambaran, populasi total penduduk Jepang adalah 127 juta jiwa.
Thomas Alan Harvey, seperti dikutip dalam buku karya David Aikman yang berjudul "Jesus in Beijing" mengatakan, "Terlepas dari kebijakan mana yang diambil oleh pemerintah Tiongkok, gereja di Tiongkok akan sangat memengaruhi bentuk kekristenan secara global bagi generasi-generasi mendatang."
David Aikman menyatakan bahwa persebaran pengaruh Tiongkok ke Asia dan belahan dunia selatan dalam dua dekade terakhir barangkali akan memengaruhi kekristenan dalam skala global.
Terlepas dari pendapat seseorang tentang suatu gerakan di Tiongkok yang disebut "Back to Jerusalem Movement", angin Roh Kudus telah menggerakkan hati ratusan orang percaya di Tiongkok yang berkomitmen membawa Injil melalui Jalur Sutra dari Tiongkok, melewati Asia Selatan dan Timur Tengah, menuju ke titik asalnya. Diperkirakan, setidaknya terdapat 100.000 misionaris Tiongkok yang akan mengambil tantangan tersebut tanpa berpikir untuk kembali pulang.
KOREA
Jumlah orang percaya di Korea Selatan diperkirakan sebanyak 12 juta jiwa atau lebih dari 25 persen dari total populasi. Beberapa orang mengatakan bahwa lebih dari 35 persen dari personel angkatan bersenjata adalah orang Kristen.
Korea, sekarang ini, adalah negara pengutus misionaris terbesar kedua di dunia. Sumber-sumber tepercaya menyatakan bahwa terdapat 16.200 misionaris yang bekerja di 180 negara. Pihak lain memperkirakan bahwa angka tersebut bisa mencapai 19.000 orang. Gereja-gereja di Korea mengirimkan 1.100 misionaris baru setiap tahun.
INDIA
Terdapat lebih dari 10.000 misionaris India yang bekerja secara lintas budaya di dalam negara mereka sendiri. Ribuan gereja telah dirintis selama satu dekade terakhir.
FILIPINA
Beberapa pemimpin penginjilan di Filipina menyatakan bahwa akan ada lebih dari 200.000 misionaris Filipina yang bekerja di seluruh dunia selama beberapa tahun ke depan. Ribuan orang percaya bekerja di perusahaan-perusahaan di negara-negara Timur Tengah. Mereka tidak terlihat seperti misionaris tradisional. Meskipun demikian, mereka menanggapi iman mereka dengan sangat serius.
KESIMPULAN
"Gereja Mayoritas Dunia" memiliki lebih dari 103.000 misionaris yang bekerja di seluruh dunia. Banyak dari mereka berada di antara orang-orang yang paling sedikit dijangkau di muka bumi. Amerika Serikat dan Kanada hanya memiliki 112.000 misionaris lintas budaya, banyak dari mereka bekerja di daerah-daerah yang lebih "tradisional" tempat gereja telah dirintis selama bertahun-tahun.
Melihat fakta-fakta mengesankan tentang lokasi gereja-gereja yang bersifat dinamis, menurut Anda seperti apa masa depan misi Kristen dunia? Tidak, bukan itu pertanyaannya. Seperti apa masa depan misi Allah? Masa depannya ialah bahwa misi Allah bergerak maju menuju kejayaannya ketika orang-orang dari setiap suku, ras, dan bangsa berkumpul di sekeliling takhta Allah dengan menyanyikan pujian bagi Dia yang layak dipuji.
Doa saya adalah supaya mereka yang tinggal di belahan bumi utara dan dunia Barat akan melihat iring-iringan besar pengikut Kristus yang setia ini, dan bergandengan tangan serta mempertautkan hati dalam usaha bersama untuk membuat Kristus dikenal sampai ke ujung bumi. -- William R. O'Brien, Bill dan istrinya, Dellanna, telah melayani selama bertahun-tahun sebagai misionaris di Asia Tenggara. Dia adalah mantan Wakil Presiden Foreign Mission Board di SBC, dan dianggap oleh banyak orang sebagai seorang pemikir-misi masa depan. (t/Odysius)
Diterjemahkan dari:
Nama situs : Restore Hope.com
Alamat situs : http://www.restorehopetoday.org/news/the-future-of-the-world-christian-mission/
Judul asli artikel : The Future of the World Christian Mission
Penulis artikel : William R. O'Brien
Tanggal akses : 14 November 2016
 
PROFIL BANGSA: VENEZUELA
Venezuela, sebuah negara modern di kawasan Amerika Selatan, mempunyai lebih dari dua puluh taman nasional, air terjun tertinggi di dunia (Angel Falls), bermil-mil pantai berpasir, gunung-gunung, daratan-daratan rendah dan hutan tropis, ibu kota Caracas, dan semua kota utama yang penuh dengan bangunan-bangunan modern. Di bagian utara Danau Maracaibo, dekat beberapa ladang minyak terbesar di dunia, tinggallah suku Indian Goaro. Rumah-rumah mereka yang dibangun di atas tiang-tiang di atas danau, memberi nama negara tersebut "Venezuela", yang artinya 'Venice kecil' karena kota Venice, di Italia, juga dibangun di atas air.
ORANG INDIAN
Ribuan orang Indian Yanomami tinggal di hutan hujan di perbatasan antara Venezuela dan Brazil. Mereka ganas dan suka berperang. Sering terjadi perkelahian di antara mereka. Mereka hampir tidak mengenal dunia di luar rumah mereka: ladang sayuran, babi hutan, kera, dan burung-burung berbulu di hutan.
Perjanjian Baru telah diterjemahkan ke dalam bahasa mereka. Ada juga beberapa rekaman Kristen, tetapi orang Indian jarang memakai bahan itu karena mereka tidak memiliki akses internet, dan hanya sedikit misionaris yang memberitahukan kasih Yesus kepada mereka.
SEJARAH
Sesudah Christopher Columbus menemukan Venezuela pada tahun 1498, Venezuela diperintah oleh Spanyol. Para penjahat membawa agama Katolik. Walaupun mereka mengaku percaya kepada Allah dan Tuhan Yesus, hidup mereka tidak berubah -- mereka tetap hidup semau mereka. Walaupun pada hari raya Paskah setiap orang bersedih karena kematian Yesus, sayangnya, mereka tidak mengerti bahwa Yesus bangkit untuk mengampuni dosa mereka. Banyak orang Venezuela pergi ke dukun, dan tidak berdoa kepada Tuhan jika mereka mengalami kesulitan.
VIDEO
Akhir-akhir ini, orang-orang muda di Venezuela merasa senang karena iman mereka kepada Tuhan Yesus. Mereka menjadi anggota kelompok-kelompok gereja dan menceritakan tentang Tuhan Yesus kepada teman-teman mereka. Banyak orang sedang dilatih untuk menjadi misionaris, di dalam dan di luar negeri. Video-video khusus ditunjukkan kepada kelompok-kelompok Alkitab dan gereja-gereja. Mudah-mudahan, anak-anak Venezuela membawa banyak orang kepada Tuhan Yesus.
Doakan Venezuela
  1. Bersyukur atas perdamaian yang boleh dinikmati negara Venezuela.
  2. Bersyukur atas anak-anak muda yang percaya kepada Tuhan dan menyaksikan Injil dengan video-video.
  3. Berdoa agar orang Indian dapat mendengar bahwa Tuhan Yesus mengasihi mereka.
  4. Berdoa bagi orang Kristen agar mereka berhenti pergi ke dukun dan memahami bahwa Tuhan Yesus adalah Juru Selamat mereka.
  5. Berdoa agar banyak orang muda dipanggil dan menjadi misionaris yang baik.
  6. Berdoa agar gereja-gereja makin mengasihi Tuhan dan memberitakan Injil.
Tahukah kamu?
Luas negara : 912.050 kilometer persegi
Ibu Kota : Caracas
Jumlah penduduk : 27.334.599 jiwa
Bahasa resmi : Spanyol
Agama terbesar : Katolik
Ekspor : Minyak, kopi, dan besi
Diambil dari:
Nama buku : Buletin Tatik dan Totok
Edisi : 36/2016
 
Anda terdaftar dengan alamat: davebroos@yahoo.co.uk.
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-JEMMi.
misi@sabda.org
e-JEMMi
@sabdamisi
Redaksi: Ayub. T, Elizabeth N., dan N. Risanti
Berlangganan|Berhenti|Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
© 2017 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

Kurd, Central in Iraq

Kurd, Central in Iraq
The Kurds are a large ethnic group that has long lived in the same region, and which traces their roots back to the Medes of ancient Persia. It has been said that Kurds "hold their Islam lightly," not identifying with their faith as closely as most Arabs do. Many Kurds still feel some connection with the ancient Zoroastrian faith, seeing it as an original Kurdish spirituality that far predates the seventh century AD arrival of Muhammad. Nonetheless, most Kurds are Sunni Muslims.
Ministry Obstacles
The Kurds may not fully understand who Jesus claims to be, and the reasons why we can believe him. Pray for understanding.
Outreach Ideas
The ancient Christian community in Iraq may once again gain strength and influence. Pray for this, and that they will be able to help carry the good news of Christ to the Kurdish community.
Pray for the followers of Christ
The Lord is beginning to call the Kurds to Himself. There may be only a few Kurdish believers today, but pray for them and for the many additional Kurds that will soon follow Christ. Pray their roots will extend deeply to Christ, that their faith will be well informed. Pray they will have power to grasp how wide and long and high and deep is the love of Christ.
Pray for the entire people group
Pray for the Kurds of Iraq to know continuing peace, and for freedom of religion to be experienced. Pray for stability and safety throughout Iraq.
Scripture Focus
"Now it will come about that in the last days, The mountain of the house of the Lord will be established as the chief of the mountains, And will be raised above the hills; And all the nations will stream to it." Isaiah 2:2

 

People Name: Kurd, Central
Country: Iraq
10/40 Window: Yes
Population: 4,335,000
World Population: 7,828,000
Language: Kurdish, Central
Primary Religion: Islam
Bible: Complete
Audio NT (FCBH): No
Jesus Film: Yes
Audio Recordings: Yes
Christ Followers: Few, less than 2%
Status: Unreached
Progress Level:

Ambushed by the Moro Islamic Liberation Front

Woman

Ambushed by the Moro Islamic Liberation Front
Note: This is the seventh in a series of nine emails examining the major Islamist groups currently persecuting Christians around the world. Read each informative email, and request your free prayer guide to learn how to pray more specifically for persecuted believers facing Islamic extremists.
May 3, 2009, was a beautiful day on the lush island of Mindanao, in the Philippines. Jean Tongcua, pregnant with her fourth child, was doing laundry in a river near her home when she suddenly heard gunfire in the distance. Immediately thinking of her three young daughters, she began climbing the river bank to return home.

As she reached the top of a small cliff, she saw the source of the gunfire — armed men shooting at everyone in sight. Dropping to her knees, she crawled backward as bullets whizzed over her head. Then a bomb suddenly exploded nearby, hurling metal and debris into the air around her; a piece of shrapnel struck Jean in the chest.

By the time the attack ended, four people had been killed and six hospitalized, including Jean. Eighty houses, all belonging to Christians, were burned to the ground, leaving more than 200 homeless. Homes belonging to Muslims were left untouched.

Request a Free Prayer Guide

Children
Although the Philippines is a predominantly Christian nation, those on the country’s second-largest island, Mindanao, have for decades faced ongoing persecution at the hands of Islamist groups like the one that attacked Jean’s village.

The Moro Islamic Liberation Front, which formed in the 1970s, carries out violent attacks on Christians in the hope of ultimately driving them off the island of Mindanao and creating a separate Muslim state. They marginalize and intimidate Christians, routinely stealing and destroying their crops and hijacking their motorbikes.

Christians in these conflict areas need your prayers to help them stand strong in the Lord and continue sharing the gospel with those who don’t know Christ. Please pray for Christians in Mindanao and other areas of the Philippines, and pray that members of extremist groups will see the truth of the gospel and place their faith in Christ. Request a free copy of VOM’s Christians Facing Islamic Extremists guide, and learn how you can pray more specifically for Christians in the Philippines.

After requesting a copy for yourself, forward this special offer to Christian friends so they can join in prayer for our persecuted family.

Stand with Christians Facing Islamic Extremists

Watch for the next email in this series this Thursday, focusing on Sudan’s Islamist regime.
Share this special opportunity with your friends and family. Share by Email Share on Facebook Share on Twitter
VOM Newsletter Icon Help VOM distribute more than 1 million Bibles to Christians in hostile and restricted nations this year. Visit www.VOMBibles.com.

SEMUA ATAU TIDAK SAMA SEKALI?

40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA -- RABU, 24 MEI 2017

SEMUA ATAU TIDAK SAMA SEKALI?

Belum lama ini, meninggalkan rumah untuk hidup sebagai seorang misionaris di Baghdad, Brunei, atau Bengazi adalah sebuah keputusan "seluruh hidup Anda". Tidak ada jalan untuk kembali. Tidak ada perubahan pikiran. Itu adalah tentang semua atau tidak. Sekali Anda membuat komitmen, Anda tidak bisa keluar lagi!

Kemudian, pada tahun 1963, yang tidak terpikirkan terjadi. Pesawat membuat misi jangka pendek menjadi mungkin. Seseorang bisa membantu selama dua tahun, atau satu atau bahkan satu musim panas. (Beberapa orang pergi selama seminggu, tetapi saya tidak bisa menyebut itu misi. Maaf.) Orang-orang yang hatinya terbuka yang sangat peduli dengan orang-orang yang terhilang sering mengaku, "Saya tidak punya beban bagi umat M." Tentu saja Anda tidak. Siapa dari Anda yang memiliki beban untuk orang-orang yang belum pernah Anda temui? Kita cenderung tergerak untuk orang-orang yang pernah makan bersama kita, bertukar cerita dan tertawa dengannya. Sulit untuk menangkap hati Tuhan bagi orang yang belum pernah Anda lihat, jika Anda tidak tahu apa-apa, kecuali kota asal Anda sendiri atau bangsa Anda sendiri. Bagaimana Anda bisa tahu apakah Anda seharusnya melayani orang di Pakistan jika Anda belum pernah ke sana?

Pertanyaan yang bagus, saya pikir. Mengapa tidak menghabiskan waktu di antara orang-orang Pathan, Baluch, atau Gilgitis dan meminta Tuhan untuk memungkinkan Anda melihat orang-orang di sana sebagaimana Dia melihat mereka?

Membenamkan diri di tengah-tengah kelompok masyarakat tidak bergereja untuk bahkan satu bulan dapat membawa Anda masuk ke sebuah petualangan "semakin dalam pada" apa yang Tuhan lakukan di sana.

Apakah Saya Tipenya?

Namun, sementara Anda sedang menguji diri terhadap ketidaknyamanan, atau bertanya-tanya bagaimana orang bisa meringankan kemiskinan yang begitu tinggi, waspadalah terhadap diri sendiri karena menanyakan pertanyaan yang salah, "Apakah saya bertipe misionaris? Apakah saya memiliki apa yang diperlukan untuk menjadi pelopor pendirian gereja di kalangan orang nonp-Kristen?" Kebanyakan orang menyimpulkan, "Mungkin tidak, saya bahkan tidak berbicara tentang Yesus dengan orang-orang non-Kristen di rumah. Saya pastilah bukan tipe misionaris."

Namun, jika Anda terus menginterogasi diri Anda sendiri tentang apa karunia yang kurang dari diri Anda, atau bagaimana lemahnya visi atau beban Anda, bisa-bisa Anda jatuh ke dalam dikotomi "semua-atau-tidak sama sekali". Jika Anda berpikir bahwa Anda harus bersedia untuk hidup dalam kemiskinan seperti Ibu Teresa, atau melakukan eksploitasi seperti "evangelis Indiana Jones", Anda mungkin akan mendiskualifikasi diri sendiri. Jadi, jangan bertanya pada diri Anda sendiri apakah Anda adalah seorang pelopor pendirian gereja, tetap tanyakanlah, "Mungkinkah saya memberikan kontribusi kepada tim pendirian gereja?" Bukan, "Apa yang kurang dari saya?" tetapi, "Apa yang bisa saya tambahkan ke dalam upaya sebuah tim?"

Kekuatan-Nya dan Kelemahan Anda

Mengapa Allah mengatakan kepada Paulus, misionaris yang besar dari Tarsus, "Kasih karunia-Ku cukup untukmu. Kuasa-Ku sempurna di dalam kelemahanmu"? Karena Tuhan selalu menggunakan orang-orang lemah yang memiliki cita-cita untuk digunakan oleh Allah yang tidak pernah kekurangan! Sejarah misi adalah tentang orang-orang lemah yang hampir tidak memiliki kemampuan untuk percaya kepada Dia yang mengutus mereka, Dia yang mampu mencapai tujuan-Nya bahkan melalui orang-orang seperti mereka!

Hanya ada dua jenis orang di dunia: orang lemah yang menyediakan diri bagi Allah dan orang lemah yang tidak bersedia.

Keamanan atau Signifikan?

Sedikit prestasi besar telah dilakukan oleh seseorang sendirian. Namun, hal-hal besar terjadi ketika orang-orang biasa menggabungkan apa yang mereka miliki dengan orang lain. Bentangkanlah ambisi Anda untuk menyelesaikan sebuah proyek berukuran Allah. Berdoalah dengan beberapa teman bagi masyarakat atau kota yang terabaikan, tempat yang belum pernah ada penghormatan dan penyembahan untuk Tuhan kita, Yesus.

Serahkanlah ambisi kecil Anda. Carilah hikmat dari visioner yang lain. Mintalah Allah untuk menunjukkan bagaimana Anda dapat menjadi bagian dari memberlakukan sebuah bab baru dalam sejarah, di antara orang-orang yang masih belum tahu apa-apa tentang Yesus.

*) Tentang penulis: Greg Livingstone

Greg telah menghabiskan lebih dari 40 tahun untuk fokus membawa pengenalan akan Kristus yang menyelamatkan kepada orang-orang M Asia dan Afrika. Beliau berperan dalam mendirikan, baik Pelaksanaan Mobilisasi dan Perbatasan maupun menjabat sebagai Direktur Amerika Utara Kementerian Dunia Arab. Greg adalah pelatih pembentuk tim yang berupaya untuk menyebarkan tim pelopor dari banyak bangsa kepada komunitas M.

Diambil dari:
Nama situs: Perspektif.co
Judul artikel: Semua atau Tidak Sama Sekali?
Penulis artikel: Greg Livingstone
Tanggal akses: 10 April 2017

Thai, Northeastern, Isan in Thailand

Thai, Northeastern, Isan in Thailand
Wet-rice agriculture dominates the Thai economy, with about half of Thailand's population living in rural agricultural communities. Buddhism is a central and unifying force in Thai society. The Thai regularly make merit by giving gifts to the temple, attending festivals, and having their sons ordained. In Thailand, Buddhism is a syncretic religion: it incorporates a mixture of pre-Buddhist Hindu beliefs and practices, interwoven with animism and Theravada Buddhist philosophy and rituals.
Ministry Obstacles
Buddhism provides a very different worldview from the worldview taught through Moses and Jesus, a worldview difficult to overcome.
Outreach Ideas
Christian workers need to model Christ-like behavior as they assist the Thai with material and physical needs.
Pray for the followers of Christ
Pray for the few Christian believers among the Northeastern Thai to become well established in the faith, resting fully on the finished work of Christ on the cross. Pray they will attain to the whole measure of the fullness of Christ.
Pray for the entire people group
Pray the Thai people will not be satisfied with their religion, but will hunger to know personally the creator God. Pray this hunger will be soon satisfied.
Scripture Focus
'Again he says, "Rejoice, O Gentiles, with His people." And again, "Praise the Lord all you Gentiles, And let all the peoples praise Him." Romans 15:10-11

 

People Name: Thai, Northeastern, Isan
Country: Thailand
10/40 Window: Yes
Population: 17,986,000
World Population: 18,104,000
Language: Thai, Northeastern
Primary Religion: Buddhism
Bible: Portions
Audio NT (FCBH): No
Jesus Film: Yes
Audio Recordings: Yes
Christ Followers: Few, less than 2%
Status: Unreached
Progress Level:

Did the Manchester attacker represent Islam?

Did the Manchester attacker represent Islam?
Dr. Jim Denison | May 24, 2017
British Prime Minister Theresa May has raised her country's terrorist threat level to critical, meaning that another attack may be imminent. The Islamic State has claimed responsibility for the horrendous bombing in Manchester.

In yesterday's Daily Article, I stated that the attacker "does not represent Islam" and that "radicalized Muslims are a small minority of the larger Muslim world." I noted that "they have killed many more Muslims than non-Muslims" and quoted a Muslim authority who condemned the attack in Manchester.

Some readers questioned my position, claiming that Islam is a religion of violence and that attacks such as the atrocity in England express its ideology. This is a common and urgent question. There are 1.6 billion Muslims in the world; clearly, we need to know if each of them represents a threat to the rest of us.

I have been studying Islam since serving as a missionary to the Muslim world while in college. I have written a book and numerous articles on radical Islam and taught world religions with four seminaries.

In my experience, the relationship between violence and Islam is a complicated one that cannot be explained fully in an essay as brief as this Daily Article. I've therefore written a paper on this issue titled Islam: A Religion of Violence or Peace? which you can read here. I'll summarize my view briefly but hope you'll refer to my longer essay for a fuller explanation.

The Qur'an was given to Muhammed in two phases. The first (AD 610–622) was received when he lived in Mecca and is known as the "Meccan phase." It contains 124 commands for Muslims to tolerate those who do not share their faith, with statements such as "let there be no compulsion in religion" (Qur'an 2:256) and "to you be your way, and to me mine" (Qur'an 109:6).

The second came when he lived in Medina (AD 622–32) and is therefore known as the "Medina phase." It requires Muslims to defend Islam (Qur'an 2:190, 192) and calls them to "fight and slay the pagans wherever ye find them" (Qur'an 9:5). Many scholars describe radical Islamists as "Medina Muslims."

Some Muslims follow the doctrine of "abrogation" (from Qur'an 2:106), claiming that the Medina revelations requiring violence supersede the Mecca teachings on tolerance. Others believe that each verse in the Qur'an must be accepted as equal in authority. Still others teach that the Medina verses were necessary for establishing Islam but are not authoritative today.

According to Gallup, only 7 percent of the Muslim world can be considered "radical" or "militant jihadist." This does not mean that seven of every one hundred Muslims in America are radicalized. The percentage would be much higher in Egypt or Saudi Arabia and much lower in Morocco or the US.

This is still a frightening number, of course. Seven percent of 1.6 billion Muslims is 112 million jihadists. But it is not equivalent to the larger Muslim world.

It is difficult to claim that militant Islamists represent all Muslims when they are killing vast numbers of their fellow Muslims. We should also note Gallup's report that tips from the Muslim-American community are the largest single source of initial information to authorities about terrorist plots. It is tragically true that radical Islamists can cite significant portions of the Qur'an in defense of their atrocities. But it is also true that many Muslim leaders have publicly rejected their theology and their crimes.

How should we respond? As I explain in my paper, we should cooperate with Mecca Muslims to defeat the radical ideology of Medina Muslims. We should work tirelessly to defend ourselves from jihadists who would commit further acts of terror against us. And we should pray daily for spiritual awakening to sweep the Muslim world.

Scripture says of Jesus, "There is no other name under heaven given among men by which we must be saved" (Acts 4:12). Have you prayed today for Muslims to meet Jesus?

Top cleric says Christians must convert to Islam, be killed, or pay tax

Iraq: Top cleric says Christians must convert to Islam, be killed, or pay tax

By Mark Ellis, Senior Correspondent for ASSIST News Service
IRAQ (ANS - May 24, 2017) --One of Iraq’s most senior government Shia clerics mimicked the hateful rhetoric of ISIS by declaring in a recent sermon that Christian “infidels” must convert to Islam, be killed, or pay a tax known as jizya.
Iraq clericSheikh Alaa Al-Mousawi, the head of Iraq’s Shia endowment, made the remarks in southern Iraq, captured in a YouTube video published May 17th.
In response, almost 200 Iraqi Christian families filed a lawsuit against the Sheikh, charging that he is fomenting sectarian violence against Christians in a manner reminiscent of the extremist group ISIS, according to the Middle East Monitor (MEM).
The irony is that Iraq is a key ally in the fight against ISIS, but Iran’s growing influence in the country does not bode well for Christians.
Al-Mousawi is in charge of the government body that maintains Iraq’s Shia holy sites, including mosques and schools.
He described Christians as “infidels and polytheists” and stressed the need for “jihad” against them. He has also said that “Jews and Christians” must be fought and killed if they do not accept Islam, with the same fate awaiting Zoroastrians as well as Sabians, another Iraqi religious community, according to MEM.
In the video clip highlighted below he said, “The second group are the People of the Book. The People of the Book must be fought, known as the infidels, the People of the Book, who are Jews and Christians. For the same reason, it is to compel their conversion to Islam. Either they convert to Islam, or else they are killed or they pay the jizya (a tax on non-Muslims), depending on any agreements with the leader of the Muslims who is the Prophet (Muhammad) or the Imam.
“Of course in this ruling they are also joined by the Zoroastrians and Sabians. I mean we deal with the Zoroastrians and the Sabians the same way we deal with the Jews and Christians and the same judgment applies to them,” he said.
Photo captions: 1) Sheikh Alaa Al-Mousawi. 2) Mark Ellis.
Mark EllisAbout the writer: Mark Ellis is Senior Correspondent for the ASSIST News Service (www.assistnews.net), and is also the founder of www.GodReports.com, a website that shares testimonies and videos from the church around the world to build interest and involvement in world missions. Previously, Mark co-hosted a TV show called “Windows on the World” with ANS Founder, Dan Wooding, aired on the Holy Spirit Broadcasting Network (http://hsbn.tv/), which is now co-hosted by Dr. Garry Ansdell, Senior Pastor of Hosanna Christian Fellowship in Bellflower, California.
** You may republish this or any of our ANS stories with attribution to the ASSIST News Service (www.assistnews.net). Please also tell your friends and colleagues that they can get a complimentary subscription to ANS by going to the website and signing up there.