Tampilkan postingan dengan label TEACHING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TEACHING. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 April 2013

KUASA DOA YANG TEKUN (LUKAS 18:1-8)

ARTIKEL DOA: KUASA DOA YANG TEKUN (LUKAS 18:1-8)

Kita tidak dapat mengerti dengan mudah mengapa Tuhan yang begitu penyayang dan yang rindu untuk memberkati kita, harus dimohon-mohon dalam suatu jangka waktu tertentu, kadang bertahun-tahun, sebelum jawaban doa itu datang. Hal ini juga menjadi salah satu kesulitan terbesar untuk bertekun dalam doa. Ketika doa kita yang terus-menerus dinaikkan tidak mendapat jawaban, daging kita yang lemah ini berpikir bahwa kita harus berhenti berdoa karena Allah mungkin memiliki alasan tersembunyi dengan menahan jawaban-Nya terhadap doa kita. Hanya iman yang dapat mengalahkan kesulitan. Pada saat iman menemukan pijakan di atas firman Allah dan nama Yesus, serta menyerahkan dirinya ke dalam pimpinan Roh Kudus untuk mencari kehendak Allah dan kemuliaan-Nya di dalam doa, iman tidak akan menjadi putus asa karena penundaan jawaban. Iman mengetahui dari Alkitab bahwa kuasa doa yang didoakan dengan tekun sangatlah besar; iman sejati tidak akan pernah kecewa. Iman tahu bahwa untuk menggunakan kuasanya, maka ia harus dihimpunkan terlebih dahulu, seperti air, hingga sebuah aliran dapat mengalir dengan deras darinya. Sering kali, iman harus "ditumpuk" terlebih dahulu sampai Tuhan melihat takarannya penuh baru kemudian jawaban doa itu datang. Setiap doa yang dengan yakin dinaikkan memiliki pengaruhnya masing-masing. Doa-doa itu disimpan untuk sebuah jawaban yang akan datang, sesuai waktunya bagi orang yang bertekun sampai akhir. Pikiran manusia dan segala kemungkinannya tidak memiliki kaitan dengan hal ini; hanya firman Allah yang hiduplah yang berarti.

Ketika jawaban doa kita tidak datang dalam waktu yang singkat, kita harus mengombinasikan kesabaran yang tenang dengan keyakinan yang penuh sukacita di dalam doa kita yang tekun. Untuk dapat melakukan hal ini, kita harus mengerti dua kata yang dikatakan oleh Tuhan kepada mereka yang berseru siang-malam kepada-Nya: "Ia tidak mengulur-ulur waktu terhadap mereka; Ia akan segera membenarkan diri mereka."

Sang Guru menggunakan kata "segera". Berkat itu sudah dipersiapkan. Bapa tidak hanya berkenan untuk memberkati, tetapi juga ingin memberi mereka apa pun yang mereka minta. Kasih-Nya yang abadi membara bersama-sama dengan keinginan untuk menyatakan diri-Nya secara sempurna kepada orang-orang yang dicintai-Nya dan untuk memuaskan kebutuhan mereka. Tuhan tidak akan menunda sedetik pun waktu yang seharusnya. Dia akan melakukan apa pun dalam kuasa-Nya untuk mempercepat kedatangan jawaban doa itu.

Namun, bila hal itu benar dan kuasa Allah memang tidak terbatas, mengapa kadang-kadang dibutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan sebuah jawaban doa? "Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya, dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi." (Yakobus 5:7) Tentu saja, petani itu menginginkan tuaiannya, tetapi ia mengetahui bahwa untuk mendapatkan hal tersebut dibutuhkan waktu selama semusim penuh. Jadi, ia mempunyai banyak kesabaran. Seorang bocah sering kali sudah ingin memetik buah yang baru setengah matang, tetapi seorang petani menunggu sampai waktu yang tepat untuk menuai.

Dalam kehidupan rohani, manusia juga terikat pada hukum pertumbuhan yang menguasai kehidupan segala ciptaan. Ia dapat mencapai takdir ilahinya hanya jika ia berada di dalam jalur perkembangan. Hanya Bapa yang menentukan waktu dan masa, yang mengetahui kapan sebuah jiwa atau gereja berada dalam kematangannya, dalam kepenuhan iman, dan dengan itu benar-benar dapat mengambil sebuah berkat dan menjadikan itu sebagai miliknya. Seperti seorang ayah yang sedang menanti anak tunggalnya pulang dari sekolah dan dengan sabar menanti sampai waktu pelatihan anaknya itu selesai, begitu pula hubungan antara Allah dengan anak-anak-Nya.

Pengertian akan kebenaran ini dapat menuntun orang-orang percaya untuk menyiapkan sifat-sifat yang berkaitan dengan ketekunan doa, yaitu kesabaran, iman, penantian, dan pujian yang merupakan rahasia untuk bertekun. Oleh iman kepada janji Allah, kita mengetahui bahwa kita sudah memiliki jawaban dari permohonan yang kita naikkan kepada-Nya. Iman memiliki jawaban akan janji itu sebagai milik yang tidak kelihatan. Iman bersukacita di dalam keyakinan itu dan bersyukur kepada Allah mengenainya, tetapi ada perbedaan mengenai iman yang sejenis itu dengan iman yang lebih jelas, penuh, dan lebih matang yang memandang janji tersebut sebagai suatu pengalaman kekinian. Di dalam ketekunan, keyakinan, dan doa penyembahanlah jiwa bertumbuh dalam suatu kesatuan dengan Tuhannya dan melalui itu memiliki berkat di dalam-Nya.

Mungkin, ada beberapa hal di sekitar kita yang harus dibereskan terlebih dahulu melalui doa sebelum jawaban itu benar-benar terjadi. Iman yang mempercayai bahwa ia telah menerima jawaban doa, memiliki kemampuan untuk mengizinkan Tuhan menggunakan waktu-Nya. Iman itu tahu bahwa ia sudah memiliki jawaban itu sekaligus merasa harus mendapatkannya. Dalam ketekunan yang tenang, gigih, dan teguh, iman itu terus berdoa serta mengucap syukur sampai berkat itu tiba. Demikianlah kita dapat melihat kombinasi dari apa yang awalnya terlihat sebagai hal yang saling berlawanan; iman yang bersukacita dalam jawaban Allah yang dianggap sebagai sesuatu yang telah diterima, bertemu dengan kesabaran yang berseru-seru siang dan malam sampai jawaban itu tiba. Seorang anak yang menanti-nanti dengan iman yang sabar akan bertemu dengan Tuhan dalam kemenangan.

Bahaya besar dalam pelajaran ini adalah godaan untuk berpikir, bahwa mungkin sudah menjadi kehendak Allah untuk tidak memberikan kepada kita apa yang kita inginkan. Jika doa-doa kita sejalan dengan firman Allah dan dipimpin oleh Roh Kudus, jangan berikan kesempatan untuk rasa takut ini menyerang Anda. Belajarlah untuk memberi Tuhan waktu. Ia membutuhkan waktu untuk bersama-sama dengan kita dalam persekutuan dengan-Nya, kita harus memberi-Nya waktu untuk menggunakan kuasa hadirat-Nya di dalam diri kita. Hari demi hari, selama kita menanti-nanti jawaban doa itu, kita perlu memberi waktu kepada iman untuk membuktikan realitasnya dan mengisi seluruh keberadaan kita. Tuhan akan menuntun kita dari iman menuju sebuah penglihatan; bahwa kita akan melihat kemuliaan-Nya.

Jangan biarkan penundaan mengguncangkan iman Anda, sebab iman akan menyediakan jawaban doa itu tepat waktu. Setiap doa yang berkeyakinan merupakan sebuah langkah yang mendekati kemenangan! Penundaan itu akan mematangkan iman, mengalahkan rintangan dunia yang tidak kelihatan, dan mempercepat kedatangan akhir penantian itu.

Berkat yang didapatkan dari doa yang bertekun tidak dapat dilukiskan. Tidak ada yang dapat menguji hati dengan lebih sempurna dari doa yang berdasarkan iman, doa itu akan mengajar Anda untuk menemukan, mengakui, dan menyerahkan segala hal yang menghalangi datangnya berkat -- segala hal yang tidak sejalan dengan kehendak Bapa. Doa semacam itu juga menuntun Anda ke dalam persekutuan yang lebih akrab dengan Dia, satu-satunya Pribadi yang dapat mengajar Anda berdoa. Penyerahan secara total hanya dimungkinkan ketika kita berada dalam darah dan Roh.

Biarlah sikap Anda tetap sama, baik ketika berdoa untuk diri Anda sendiri ataupun untuk orang lain. Setiap pekerja, secara jasmaniah atau secara mental, membutuhkan waktu dan usaha. Kita harus menyerahkan segala upaya kita untuk hal ini. Alam menunjukkan segala kekayaannya hanya kepada pekerja yang tekun dan bijaksana. Benih yang kita tabur di surga, usaha yang kita kerahkan, dan pengaruh yang kita harapkan dapat terjadi di dunia, membutuhkan sebuah penyerahan total di dalam doa (Galatia 6:9).

Biarlah kita secara khusus mempelajari pelajaran ini sambil mendoakan Gereja Kristus. Mempelai wanita ini benar-benar seperti seorang janda tanpa kehadiran Tuannya, sebab kini ia berada di bawah belas kasihan musuh-musuhnya dan tidak mampu memperbaiki situasi yang ada. Ketika kita berdoa bagi gereja-Nya ataupun bagi bagian mana pun dari gereja itu yang berada di bawah kuasa dunia ini, baiklah kita meminta-Nya untuk melawat mempelai-Nya ini dengan karya-karya Roh yang besar untuk mempersiapkannya demi kedatangan-Nya. Berdoalah di dalam iman yang teguh bahwa doa-doa itu sungguh membantu dan doa yang bertekun akan mendapat jawabannya.

Tuhan, Ajarlah Kami Berdoa

Ya Tuhan, Allah kami! Biarlah kami mengenal jalan-Mu dan dengan iman mempercayai apa yang sudah diajarkan Putera-Mu: "Ia akan segera membenarkan mereka." Biarlah kelembutan kasih-Mu dan kesukaanmu dalam mendengar dan memberkati anak-anak-Mu menuntunku untuk menerima janji, bahwa kami akan menerima apa pun yang kami minta, bahwa jawaban itu akan diberikan tepat pada waktunya. Tuhan, kami mengenal musim-musim di alam; kami tahu bagaimana kami harus menunggu buah yang kami harap-harapkan. Penuhilah kami dengan keyakinan bahwa Engkau tidak akan menunda sedetik pun dari yang seharusnya, dan bahwa iman kami akan mempercepat datangnya jawaban itu.

Ya Tuhan kami! Engkau berkata bahwa orang-orang pilihan Allah menyenangkan-Mu siang dan malam. Ajarlah kami untuk memahami hal ini, Engkau mengetahui bahwa kami begitu cepat lelah. Mungkin kami merasa bahwa keilahian Bapa berada di luar jangkauan doa-doa kami yang tidak selaras dengan-Nya ketika kami memohon dengan sangat kepada-Nya. Ya Tuhan! Ajarlah aku mengetahui betapa nyatanya hasil doa itu! Aku tahu ketika aku gagal dalam sesuatu di dunia ini, aku dapat berhasil dengan upaya yang diperbarui dan dilakukan terus-menerus serta dengan menyediakan waktu dan pikiran. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana menyerahkan diriku sepenuhnya ke dalam doa -- dengan hidup sepenuhnya di dalamnya -- bahwa aku dapat menerima apa pun yang aku minta.

Di atas segalanya itu, ya Guru, Pencipta dan Penyempurna imanku, biarlah seluruh hidupku berada di dalam iman kepada Anak Allah yang mengasihiku dan yang memberikan hidup-Nya demi aku. Di dalam-Mu doaku menemukan penerimaan dan memiliki kepastian jawaban. Tuhan Yesus, dalam iman seperti itulah aku akan selalu berdoa tanpa henti. Amin. (t/Yudo)

Diterjemahkan dari:
Judul buku: With Christ in the School of Prayer
Judul asli artikel: The Power of Persevering Prayer
Penulis: Andrew Murray
Penerbit: Whitaker House
Halaman: 118 -- 125

Jumat, 15 Februari 2013

PENGHALANG BERUPA TIDAK MENGAMPUNI

ARTIKEL DOA: PENGHALANG BERUPA TIDAK MENGAMPUNI (1)

Banyak orang Kristen memunyai penghalang di dalam kehidupannya. Penghalang ini menghambat kemajuan rohani kita -- sesuatu yang mengikat; yang membuat frustrasi; menyebabkan tertunduk; menghalangi sukacita, damai sejahtera, kepuasan, dan penggenapan atas apa yang seharusnya kita miliki. Jika ada penghalang yang timbul antara Allah dan manusia, itu terjadi dari pihak manusia, bukan dari pihak Allah karena pada saat kematian dan kebangkitan Yesus, semua penghalang runtuh di sisi Allah. Salah satu penghalang terbesar untuk memperoleh damai sejahtera yang penuh dan perhentian yang sempurna adalah tidak mau mengampuni. Mari memerhatikan apa yang Yesus ajarkan dalam Matius 18:15-35.

Matius 18:18-19 memiliki apa yang saya sebut "pusat kuasa" dari gereja -- tempat dari semua kuasa dan kewenangan. Ini adalah sel dari gereja: 2 atau 3 orang percaya dipimpin bersama-sama oleh Roh ke dalam nama Tuhan Yesus. Dalam kehidupan jasmani, jika kehidupan sel tercerai berai, maka kehidupan menjadi tidak sehat. Hal ini juga berlaku bagi tubuh Kristus, yaitu gereja. Jika kehidupan sel setempat rusak, maka keseluruhan tubuh tidak akan sehat. Di dalam sel inilah terletak benih-benih atau sumber-sumber dari semua kehidupan gereja dan sumber dari semua kuasa.

Akan tetapi, janji dari kuasa ini dikelilingi dan dijaga dengan sebuah pagar. Anda tidak dapat memasukinya kecuali Anda memenuhi syarat-syaratnya. Saya sebut pagar ini "hubungan yang benar". Dalam Matius 18:15-17, Yesus berbicara tentang apa yang harus dilakukan kalau saudara Anda berbuat kesalahan pada Anda. Selanjutnya, ayat 19 berkata, "... jika dua orang dari padamu sepakat ...." Kata "gerika" yang dipergunakan di sini sama dengan kata "simfoni". Jadi, tidak sekadar kesepakatan secara intelektual, tetapi kesepakatan, kesehatian, keselarasan. Itulah ketika dua orang mulai berada dalam kesatuan roh. Secara alami, kalau Anda mau membuat simfoni, ada dua hal yang harus Anda punyai. Anda harus punya aransemen dan konduktor. Dalam alam rohani, jika Anda mau memunyai simfoni, Anda juga harus memunyai dua hal yang sama. Aransemennya adalah kehendak Allah; konduktornya adalah Roh Kudus.

Kesehatian atau kesepakatan tidaklah sekadar berkata, "Kita setuju." Kesehatian adalah berada dalam harmoni secara Roh dengan orang lain. Jika kita sudah sampai pada tempat dari harmoni rohani yang sebenarnya, kita tidak akan dapat dihalangi oleh apa pun. Karena hal ini, setan akan berusaha sedapat-dapatnya untuk mencegah orang-orang Kristen sampai ke tempat ini, dan dia sudah sangat berhasil dengan sebagian besar orang yang menyebut diri mereka Kristen.

Dalam Perjanjian Lama, Allah sudah menghadapi masalah yang cukup besar dengan umat Israel. Ia sudah menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang tidak dapat ditampilkan secara memadai, baik melalui gambaran, lukisan, atau wujud apa pun. Usaha-usaha untuk membuat tiruan Allah secara tegas dilarang. Akan tetapi, berulang kali kita mendapati bahwa Israel jatuh ke dalam kesalahan dengan membuat patung atau berhala dan berkata, "Ini mewakili Allah." Kesalahan yang sama dilakukan juga oleh orang-orang Kristen pada masa sekarang. Tubuh Yesus Kristus tidak dapat ditampilkan secara kelembagaan. Akan tetapi, seiring dengan perjalanan waktu, orang-orang Kristen berkali-kali mencoba membuat sesuatu yang bisa dilihat dan diraba dari hal-hal yang rohani. Mereka mencoba untuk menghasilkan organisasi, lembaga, sesuatu yang dimaksudkan untuk mengikat bersama-sama, yang menggantikan kesatuan dan hubungan yang seharusnya dari tubuh Yesus Kristus.

Sebagai contoh, Bala Keselamatan (ini bukan merupakan kritikan terhadap Bala Keselamatan). Di dalam Bala Keselamatan ada kesatuan organisasi yang kuat, yang sama dengan organisasi ketentaraan. Selanjutnya, ada ikatan kebersamaan melalui seragam sehingga kalau Anda melihat mereka, segera saja Anda akan mengenali dan berkata, "Dia dari Bala Keselamatan." Semua yang dapat dilakukan untuk menghasilkan kesatuan dan struktur organisasi dapat dijumpai di sana. Namun demikian, 2 orang dari Bala Keselamatan bisa saja berada dalam perselisihan yang tidak dapat dihindarkan lagi -- jauh dari kesatuan dan harmoni, bahkan bisa jadi mereka saling berlawanan. Dua orang bisa saja berada dalam Bala Keselamatan, dan yang satu bisa saja sudah bertobat dan dilahirkan kembali, sedangkan yang lain belum dilahirkan kembali. Mereka bahkan tidak berada dalam tingkatan rohani yang sama. Akibatnya, dewasa ini ada banyak orang Kristen dalam tubuh Kristus berada dalam hubungan yang keliru dengan orang lain, dan mereka bahkan tidak menyadari kalau ada hal yang keliru.

Suatu malam, dalam sebuah kebaktian, 5 orang maju ke depan untuk meminta dukungan doa. Saya digerakkan untuk bertanya kepada setiap orang secara pribadi, "Apakah ada sikap tidak mau mengampuni, kemarahan, atau kemauan untuk balas dendam di dalam hati Anda?" Dari 5 orang yang maju, 3 orang berkata, "Ya, memang ada." Saya menjawab, "Apakah Anda benar-benar mau agar saya mendoakan Anda? Saya dapat saja langsung mendoakan Anda, tetapi apa yang harus dilakukan agar doa itu ada pengaruhnya? Dan, tahukah Anda apa yang mereka katakan? "Lebih baik kami pergi dan membereskan dulu semuanya, kemudian kembali ke sini untuk didoakan."

Luar biasa! Namun, yang sebenarnya luar biasa adalah bahwa ada orang-orang yang tidak menyadari adanya hubungan yang salah. Mengapa mereka bisa dikelabui? Mereka sudah mengizinkan sejumlah hal lahiriah sebagai pengganti yang membutakan mereka terhadap kenyataan batiniah.

Jika kesatuan lahiriah tidak ada hubungannya dengan hubungan rohani batiniah di dalam tubuh Kristus, lalu apa yang dapat menjaga tubuh Kristus secara kebersamaan? Apa yang merupakan sifat dan sumber yang benar dari kesatuan kita? Kita mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang sangat penting ini di dalam dua pasal dari Efesus dan Kolose. Di dalam Efesus 4:16, Paulus berbicara tentang "Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, -- yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota -- menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih." Jika Anda tidak mau mengampuni orang lain, Allah tidak akan mengampuni Anda.

Dalam Kolose 2:19, dalam konteks yang sama, Paulus berbicara tentang Kristus sebagai kepala "seluruh tubuh yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi; menerima pertumbuhan ilahinya." Ada dua hal yang Paulus katakan tentang mempersatukan atau menjadikan satu anggota-anggota tubuh: Ditunjang dan diikat. Apakah yang dimaksudkan dengan ditunjang dan diikat? Ditunjang adalah hubungan antara anggota-anggota tubuh. Diikat adalah sikap yang terjadi di antara anggota-anggota tersebut.

Secara alami, lengan kita memiliki tiga tulang. Meskipun masing-masing kuat dan sehat, berfungsinya tulang-tulang itu secara berhasil bergantung pada penunjang yang kita sebut siku. Masing-masing tulang dapat berada dalam keadaan yang sehat sempurna, namun demikian lengan tidak akan bisa bergerak jika penunjang tidak berfungsi sebagaimana seharusnya. Hal ini berlaku juga dengan tubuh Kristus. Hubungan Anda dengan yang lain merupakan penunjang yang membuat Anda sesuai di dalam Tubuh.

Sekali lagi, dalam Efesus 4:3 dan Kolose 3:14, Paulus berbicara mengenai Ikatan yang kuat, yang mempersatukan seluruh Tubuh. Ikatan yang sangat perlu, yang dapat menjaga Tubuh Kristus dalam kesatuan yang benar adalah kasih. Tetapi bila sikap ini tidak dijumpai, maka seluruh fungsi dari Tubuh akan lenyap. Jika kita berada dalam hubungan yang salah dengan sesama orang Kristen, tubuh tidak akan dapat berfungsi; kita juga tidak akan dapat menerima apa yang kita butuhkan untuk diri kita sendiri -- kita tidak hanya menutup berkat bagi orang lain, tetapi kita juga menutup berkat bagi diri sendiri.

Pada suatu kali, sesudah berkhotbah di sebuah gereja, saya pergi ke gereja yang lain dan menyampaikan khotbah yang sama. Akan tetapi, di gereja yang kedua ini, saya merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Tahukah Anda, apa yang saya temukan? Di gereja yang memiliki anggota aktif sekitar 400 orang pada hari Minggu, ternyata terjadi perpecahan di antara mereka. Orang-orang yang berada di sebelah kanan saya tidak berbicara dengan orang-orang yang berada di sebelah kiri saya selama 5 tahun. Ketika mereka saling bertemu di jalan, mereka mengambil jalan simpang untuk menghindar. Sebagai akibatnya, bagi saya, berkhotbah kepada orang-orang seperti itu adalah membuang-buang waktu saja karena tidak memungkinkan bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam gereja yang sedemikian.

Dalam Matius 18:23-35, kita mendapatkan perumpamaan tentang seorang hamba yang tidak mau mengampuni. Ayat terakhir dari pasal ini menunjukkan kepada kita bahwa Yesus berbicara mengenai orang-orang yang menyebut dirinya Kristen. Hamba yang pertama di dalam perumpamaan ini berutang 10.000 talenta. Karena tidak mampu membayar, dia nyaris dimasukkan ke dalam penjara. Ia memohonkan belas kasihan kepada tuannya. Tuannya mengampuni dia dengan menghapuskan semua utangnya. Akan tetapi, sementara berjalan keluar, ia bertemu dengan sesama pelayan yang berutang kepadanya 100 dinar. Ketika temannya ini meminta belas kasihan kepadanya, ia enggan melakukannya.

Ketika tuannya mengetahui perbuatan hambanya yang telah ia ampuni itu, tuannya sangat marah. Sesudah memanggilnya dan menanyakan apa yang terjadi, tuannya berkata, "Kamu hamba yang jahat." Kemudian, tuan itu memerintahkan, "Serahkan dia kepada algojo, sampai dia melunasi utang-utangnya." Dan, ayat yang terakhir berkata, "Demikian juga akan dilakukan oleh Bapa-Ku yang di Sorga kepadamu, jika kamu tidak mengampuni dengan segenap hati saudara-saudaramu yang berbuat kesalahan kepadamu."

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul majalah: Hidup dalam Kristus Vol.18, No.2
Penulis: Derek Prince
Penerbit: Yayasan Pusat Hidup Baru
Halaman: 6 -- 10

Minggu, 23 Januari 2011

It's Time to Jettison Excess Baggage


It's Time to Jettison Excess Baggage
By Eddie Smith

As I stood in line at the Air France ticket counter at Houston's George Bush International Airport I could hardly believe my eyes. In full view of the 200 people who were waiting in line behind her, an elegantly-dressed African lady, pulled a new computer monitor (looked like a television set) from its manufacturer's shipping container, opened up her two suitcases on the floor, and began digging a place in one suitcase in which she could cram her new monitor, while stuffing clothing into the other. Why?
Airlines limit the number of pieces of luggage each passenger can bring on board, as well as the weight and sizes of those items. This is important because the plane has limited cargo space; and the weight of the cargo, along with the total weight of the passengers effect the handling of the plane in flight. Although she had one too many packages, she was absolutely intent on taking her newly-purchased monitor with her to Africa!
Spiritually speaking, excess baggage in your life will deter the progress of your Christian growth. They may be things related to your past, and sometimes things that relate to your predecessors (your parents and grandparents). Are you as intent as this African traveler was to reduce your excess baggage? Let's look at what that might entail.
Ancestral bondage or generational iniquity, is something over which you had no control. In fact, like the color of your eyes, you were born with it. You may wonder why the sins that someone else committed, especially someone who lived decades ago, might affect your life.
It's simple, really. When a person sins, they open the door to the enemy. (Eph. 4:26-27.) Depending on the nature of their sin and degree to which they submitted themselves to it, they can easily enter into partnership with the enemy. As they yield to the devil, they become his servants (Rom. 6:12-16). Satan then takes advantage of these unholy alliances moving from one generation to the next. These unholy soul ties are spiritual alliances or contracts that have been established through the sins of our forefathers! Exodus 34:7 (KJV) says, “Keeping mercy for thousands, forgiving iniquity and transgression and sin, and that will by no means clear the guilty; visiting the iniquity of the fathers upon the children, and upon the children’s children, unto the third and to the fourth generation."
Notice it speaks of the father’s iniquity. The word iniquity does not necessarily refer to sin. The word iniquity carries the thought of being bent. We sometimes talk about someone with “a bent to do something." For example, a drug-addicted son of an alcoholic father was "born with a bent toward addiction." A familiar quotation is “as the twig is bent, so grows the tree."
Each of us was born with facial features, a body type, hair, eyes, and skin color resulting from our parents. Our personality traits, strengths and weaknesses, and even our susceptibility to certain sicknesses and diseases can also be imparted to us by our parentage, and theirs.
Intentional and habitual sin can easily become a legally binding spiritual contract (or agreement) that one knowingly or unknowingly makes with the enemy. The consequences of our forefather's iniquity may be our tendencies toward certain sins (i.e., lying, stealing, phobias, sexual perversion, alcoholism, fear, anger, rage, and etc.); certain sicknesses and diseases (i.e., heart trouble, high blood pressure, cancer, mental illness, depression, etc.); even spiritual and emotional weakness. It can also involve demonic bondage, in terms of familiar spirits (evil spirits that relate within families and who can appear in ghost-like forms posing as spirits of the departed.)
When a person is involved with a cult like Jehovah’s Witnesses, Mormonism, Unity and Unitarianism, Scientology, Freemasonry, etc., or the occult (i.e., witchcraft, Satanism, fortune-telling, Indian shamanism, superstition, voodoo, etc.), or for that matter ungodliness of any sort, he or she opens doors to spirits of darkness. Too often, their progeny, whether they know it or not, “renew the lease” with Satan, by their own similar sin thereby extending the iniquity beyond four generations!
It is possible--in fact, it is imperative that you cast off this excess baggage of ancestral iniquity. In my book, Breaking The Enemy’s Grip, I suggest steps to do just that. It begins by making a list of sins and iniquity in which your parents or grandparents participated. Some family sins are obvious.
However, you should ask the Holy Spirit to show you anything He specifically wants you to renounce. The purpose is not to cast blame on past generations. Nor is it to make an all-inclusive list, but to list those things that God finds significant to your freedom. Then break any contract that may exist as a result of those sins. Finally, renounce any spirit or spiritual bondage that may exist as a result of that bondage. You can live free!
Let's identify and discharge our excess baggage for the glory of the King!

Senin, 06 Desember 2010

Receiving Correction




Alice Smith

Can you give away something that you don’t have? Of course you can’t! Yet, we somehow have the idea that we can consecrate our unsurrendered lives to the Lord. There is only one thing we can wholly give to the Lord—that is the right to ourselves! (See Romans 12.)

In God’s character building school there is a basic operational principle. If when we are tested, challenged, corrected or rebuked and we choose to receive the correction with grace and humility, then the Lord will continue to promote us. But once we get bitter, take offense or try to defend our rights, then the Lord registers our reaction and sees that we are not ready for any higher position of authority. Why? Because surely we couldn’t handle the criticism and pressure that comes with more responsibility.

God tested King David’s reaction to correction through the words of the prophet Nathan. When David and the beautiful Bathsheba had hardly risen from their bed of adultery, David made arrangements for her husband, his faithful military officer Uriah, to be killed on the front line of battle (See 2 Sam. 11:14-27.) It seemed that David had now cunningly arranged his world to make allowances for his sin. But God says, “Be sure your sin will find you out” (Num. 32:23).

Following the time of mourning Uriah’s death, God sent His prophet Nathan to confront King David with his sin (see 2 Samuel 12). Nathan told David a story about a poor man with one sheep—a family pet. He explained how a rich man stole and ate the poor man’s only sheep. Thinking that the story was true, King David grew incensed and demanded that the rich man be arrested and immediately executed for such a thoughtless and selfish act. Calmly, Nathan told David that the story was a parable about David’s own life. The prophet turned to David and said: “Sir, thou art the man” (v. 7).

How would David, who had unlimited power in his kingdom, respond to Nathan’s accusation? Would he turn his anger toward Nathan and have him executed instead? Would he deny his sin with Bathsheba? Would he ignore his sin and continue living his life of royalty?

Amazingly, David immediately repented and openly confessed his sin. His words still echo through the halls of history: “I have sinned against the Lord” (v. 13). David obviously was a man of integrity. He accepted with grace the correction due him. He didn’t want to compound his sin of backsliding by adding to it the sin of hypocrisy.

No one enjoys correction. Facing discipline is never fun. In fact, it can be quite painful. Sometimes the criticism is justified, but other times it isn’t. But correction is sometimes necessary if we are to remain spiritually healthy. To listen and heed correction builds our character and often opens the door to future opportunities. But the person who is spiritually unteachable will go back to address the same issues over and over again until he or she learns to receive correction with grace and humility.

The discipline may come in an incorrect manner, but that is not the issue at hand. The question is, When you are challenged, corrected, rebuked or even misunderstood, what do you do? How do you respond? Do you snap back a retort and defend yourself? Do you lash out and point the finger at another? Do you sulk, run away or make excuses for your behavior? These are common responses, to be sure.

However, in every correction there is kernel of truth. Find that truth, permit the Lord to change your character and see how the devil will be unable to find a way to accuse you. God wants to see you react supernaturally to these provocations. If you learn to receive correction with grace and humility, then promotion may be the next step in your future.

I was corrected last week regarding a situation that was taken out of context with what was happening. One of our employers told me what a woman in the organization had said, and honestly my first thought was, What? Just who does she think she is?

But I have learned to submit criticisms that come my way to prayer. I did the same with this criticism. When I went to prayer I began to argue with the Lord about what had been said about me. I was shocked when I heard the Father speak to my heart, “Alice, swallow your pride and apologize.”

Immediately, I confessed this to the Lord and asked Him to change my character that with any criticism I will have a godly response. This practice isn't fun, but I allow the sometimes-painful correction of others to help purify my life. How about you? Will you receive correction and be changed too?

Jumat, 26 November 2010

We Won! Oh, Really??


We Won! Oh, Really??
By Eddie Smith
© Copyright 2010, Eddie Smith

One church beats out another, and thinks it has won!

Many pastors can't explain why their churches are spiritually and numerically stagnant. They repaint, retop the parking lot, manicure the lawns, redecorate the nursery. They promote, advertise and produce new programs. But nothing seems to work.

Of course there can be any number of, or even a combination of things that can contribute to this. One, however, is rarely mentioned. "What," You ask?

"A spiritually polluted atmosphere."

"Huh?"

In our recently upgraded and enlarged best selling book, Spiritual Housecleaning, we explain. In our chapter entitled, Spiritual Church Cleaning, we offer several reasons the spiritual atmosphere of a church's building can become polluted. The Holy Spirit is grieved and withdraws and the enemy infiltrates. You'll be surprised at the possibilities.

So, the reason some guests don't return to a perfectly wonderful church is quite subconscious. They may not even be able to explain it. Because of past events, the door has been opened to darkness and the atmosphere is polluted. Until leadership discovers the pillar event that opened the door and repents (as Nehemiah did) for the past misuses and mistakes of previous leaders, darkness is legal right to remain.

This is quite serious. What follows is a story from that chapter.

We had just stepped of the plane and were met by the missionary who would be our host for the next several days. He was an American missionary in this major world class city.

On the way to his house he explained how expensive property was and how fortunate they were to have their place of worship. “Where do you meet?” we asked.

“We meet in the (he named the building). It’s an ideal worship facility. And we almost missed it. You see another church had it rented on Sunday mornings. So, they offered us Friday nights. But I did some investigative work and found out how much the other church was paying. I offered the owner more money, and he immediately bumped them to Friday night and gave us ‘prime time’ on Sunday morning. Amazing, isn’t it?”

After a few minutes of driving I said, “Pastor, what do we have planned for tonight?”

“Nothing at all--you can rest. Why?”

“We’d like to attend church.”

“Church--what church?” he asked puzzled.

“The church that meets on Friday night,” I explained.

“Why on earth would you want to attend that church?” he asked.

“Pastor, we’d like to attend that church to give you the opportunity to repent to them for taking their worship time. For if you think we are going to stay in your country and minister in your church with this sin hanging over your head, you are sadly mistaken. We’ll catch the next plane home.”

Needless to say he was shocked, and convicted. After a few moments of thoughtful deliberation he humbly agreed.

That night after we went in and sat down I was able to get the pastor’s attention and said, “Pastor, my name is Eddie. I’m from the United States. I have with me the pastor of the church that meets in this facility on Sunday mornings. He is the one who took your Sunday morning worship time from you. He would like to repent publicly to you and your people for doing that. Would you allow us 2-3 minutes of your time tonight?”

He graciously agreed. And when the time came, he introduced me. I introduced my host pastor. He stood before the people and sincerely repented to them with tears for the ‘backhanded’ way he had treated them. When he finished, I asked, “People, will you forgive pastor for what he has done to you.” They did.

What should you expect?

You should expect a supernatural response. In the case of these two churches with different denominational doctrines, members of both congregations began to meet together in city parks together for picnics.
They merged some of their ministries and the pastors preached in each other’s pulpits in the months that followed. And, over the next two years, both churches tripled in size!

Kamis, 21 Oktober 2010

The 1857 PRAYER REVIVAL in AMERICA


The 1857 PRAYER REVIVAL in AMERICA
-extracts by Wesley Duewal.

A quiet, zealous forty-six-year-old businessman in New York was
appointed on July 1,1857 , as a missionary in downtown New York
at the Dutch Church. Jeremiah Lamphier had been converted in
1842 in Broadway Tabernacle, Finney's church that was built in 1836.

Lamphier felt led by God to start a noon-time weekly prayer meeting
in which business people could meet for prayer. Anyone could
attend, for a few minutes or for the entire hour. Prayers were to
be comparatively brief. Lamphier's group met on the third floor of
the old North Dutch Reformed Church on Fulton Street in New York.
Lamphier printed some handbills announcing the prayer meetings
with the title, "How Often Should I Pray?"

The first day, September 23, 1857, Lamphier prayed alone for half
an hour. But by the end of the hour, six men from at least four
denominational backgrounds joined him. The next Wednesday
there were twenty. On October 7 there were nearly forty. The
meeting was so blessed that they decided to meet daily. One
week later there were over one hundred present, including many
unsaved who were convicted by the Holy Spirit of their sin.

Within one month pastors who had attended the noon prayer
meetings in Fulton Street started morning prayer meetings in
their own churches. Soon the places where the meetings were
held were overcrowded. Men and women, young and old of all
denominations met and prayed together without distinctions. The
meetings abounded with love for Christ, love for fellow Christians,
love for prayer, and love of witnessing. Those in attendance felt
an awesome sense of God's presence. They prayed for specific
people, expected answers, and obtained answers.

Newspapers began to report on the meetings and the unusual spirit
of prayer that was evident. Within three months similar meetings
had sprung up across America. Thousands began praying in these
services and in their own homes.... By the end of March over six
thousand people met daily in prayer gatherings in New York City.

Meetings began in February in Philadelphia. Soon Jayne's Hall
was overfilled, and meetings were held at noon each day in public
halls, concert halls, fire stations, houses, and tents. The whole
city exuded a spirit of prayer.

Almost simultaneously noon prayer meetings sprang up all across
America in Boston, Baltimore, Washington, D.C., Richmond,
Charleston, Savannah, Mobile, New Orleans, Vicksburg, Memphis,
St. Louis, Pittsburgh, Cincinnati, Chicago, and in a multitude of
other cities, towns, and in rural areas. By the end of the fourth
month, prayer fervor burned intensely across the nation. It was an
awesome but glorious demonstration of the sovereign working of
the Holy Spirit and the eager obedience of God's people.

INVISIBLE CLOUD of GOD'S PRESENCE

A canopy of holy and awesome revival influence - in reality the
presence of the Holy Spirit - seemed to hang like an invisible cloud
over many parts of the United States, especially over the eastern
seaboard. At times this cloud of God's presence even seemed to
extend out to sea. Those on ships approaching the east coast at
times felt a solemn, holy influence, even one hundred miles away,
without even knowing what was happening in America.

Revival began aboard one ship before it reached the coast. People
on board began to feel the presence of God and a sense of their
own sinfulness. The Holy Spirit convicted them, and they began
to pray. As the ship neared the harbor, the captain signaled,
"Send a minister." Another small commercial ship arrived in port
with the captain, and every member of the crew converted in the
last 150 miles. Ship after ship arrived with the same story: both
passengers and crew were suddenly convicted of sin and turned
to Christ before they reached the American coast.

HOMES, SHOPS, FIELDS and CHURCHES

Reports came in of hundreds being converted in prayer meetings,
private homes, workshops, and fields. Often the doors of businesses
held signs reading, "Closed, will reopen at the close of the prayer
meeting." Five prayer meetings took place daily in Washington,
D.C. Five thousand or so attended daily services in the Academy
of Music Hall.

In Philadelphia, Jayne's Hall removed partitions and added space
for six thousand people to attend daily meetings.... The services
consisted of simple prayer, confession, exhortation, and singing.
But it was "so earnest, so solemn, the silence. ..so awful, the
singing. ..so over-powering" that the meetings were unforgettable.
A canvas tent was erected for outdoor meetings, and it immediately
filled with people. In four months' time, a total of 150,000 people
attended the ministry in the tent, with many conversions..... the
best estimates are that 6.6 percent of the entire population of the
United States was converted during the revival.

Please comment on this topic at the website below-

http://www.johnthebaptisttv.com/

-SOURCE - Wesley Duewal's book "Revival Fire" from Zondervan
Publishing House. - Worth a read!

Senin, 13 September 2010

Divine Providence


Divine Providence
Alice Smith

This weekend we've all remembered 9/11. I'm sure you know where you were the day our nation changed. I can. Each of us have pivotal experiences that change our perspective on life. Such was the case for me on one occasion.

As I boarded the airplane that evening I was really weary. The weekend of ministry had been extra hard for some reason, and I felt a head cold coming on. I dropped into the seat for the ride home and dozed off almost immediately. Somewhere in my subconscious, I was still aware of the takeoff and the plane's smooth sailing through the sky. The flight attendants had already served everyone and dimmed the overhead lights.

I must have been asleep for most of the trip, when the jolt of the plane awoke me. The turbulence was some of the worst I'd ever experienced. My window seat allowed me to look outside, but there was no visibility, only thick, dark clouds. It was quite unsettling as the plane lurched up and down and from side to side. I strained to see the ground but to no avail.

It seemed like an eternity before the captain came on the intercom. His deep, soothing voice was comforting. “This is your captain speaking. Folks, there is no reason to worry; the haze is thick and the turbulence is rather bad, but ground control has us on their radar and they will help us make a safe landing. We will be landing soon.”

Although the plane continued to rock, and it wasn’t a comfortable experience, the control room below could see the big picture. They could land the plane safely. At that moment the Lord reminded me that even though at times the circumstances of our lives become tumultuous and hinder our visibility, the heavenly Father always sees the big picture. Not to worry, He has us on His radar. We often strain to see in the natural something that God is doing only in the spiritual.

Experiences like this have taught me several things. The relationship we maintain with the Father and the atmosphere produced by that relationship are very important. Religious rules and regulations won’t carry us when the going gets rough. We need an intimate and close fellowship with God. Our relationship is found in a deep abiding faith as we rest in the arms of a good and faithful Father.

Secondly, if we expect to be prepared to face life’s trials we must maintain a meaningful relationship with the Father. When the bottom drops out and we are rocked by trauma, there isn’t time to build a trusting relationship with God. At those times we need to rest in the relationship we’ve already developed with Him.

Life can be exceedingly challenging at times. Yet prayer should be our first response to a challenge. In our desperate cry for help with life’s twists and turns, the Lord is drawing us to listen to His voice. This isn’t a step into the dark; it is a step into the light of faith in Him.

This walk of faith insists that we silence our busy and fretful hearts, preparing us to hear God’s voice. Once we hear and obey Him, this is confirmation that the new nature of Christ is at work in us. Now we just need to step out and trust Him. To the degree that we learn the voice of our heavenly Father and desire to understand His ways, to that same degree we will also hear His voice and walk in His ways. Our personality, intelligence or talents have little to do with it.

The next time you find yourself in the haze of life’s turbulence, and there is no clear view, draw close to the heart of God. There you will find peace. He has you on His radar screen and you can trust Him to bring you safely home.

Kamis, 10 Juni 2010

Kehidupan Doa


BULETIN DOA - Edisi Juni 2010, Vol.02 No.16 -- Kehidupan Doa

______________________________e-Doa___________________________________
(Sekolah Doa Elektronik)
______________________________________________________________________
DAFTAR ISI

EDITORIAL
ARTIKEL DOA: Penglihatan dalam Kemuliaan: Doa
TOKOH DOA: Ezra: Tobat Nasional
STOP PRESS: KADOS (Kalender Doa SABDA)
______________________________________________________________________
EDITORIAL

Shalom,

Jika ada seseorang yang bertanya seberapa pentingkah doa bagi
kehidupan Anda, apa jawab Anda? Mungkin jawabannya adalah doa
merupakan bagian yang teramat penting bagi kehidupan kita. Bahkan,
doa sering diibaratkan sebagai nafas kehidupan. Namun, apakah kita
benar-benar menikmati "nafas" kehidupan ini? Kebanyakan orang tidak
dapat menikmatinya karena berbagai macam faktor. Salah satunya
karena mereka tidak tahu betapa pentingnya doa itu. Nah, untuk
mengetahui mengapa doa itu begitu penting, kami mengajak Anda untuk
menyimak artikel yang telah kami persiapkan.

Pimpinan Redaksi e-Doa,
Novita Yuniarti
< novita(at)in-christ.net >
http://doa.sabda.org
http://fb.sabda.org/doa
______________________________________________________________________
ARTIKEL DOA

PENGLIHATAN DALAM KEMULIAAN: DOA

Banyak dari kita yang mengharapkan terjadinya pertemuan pribadi
dengan Allah, tetapi kita ingin agar pertemuan itu terjadi sesuai
dengan kehendak kita. Kita menginginkan lawatan Allah, tetapi kita
menolak untuk naik ke tempat kediaman-Nya. Kita menginginkan tempat
kediaman-Nya, tetapi apakah kita menyadari apa yang terlebih dahulu
Ia minta dari kita? Sebelum setiap nabi dalam Perjanjian Lama
membawa pesan penghakiman kepada suatu bangsa yang dapat
mendatangkan perubahan, mereka menerima penglihatan dari Takhta
Allah dan tempat kemuliaan Allah. Hari ini, kita pun banyak yang
merindukan lawatan Allah, tetapi kita belum mengalami pertemuan
dengan Takhta Allah. Kita rindu agar Allah membawa "turun"
Takhta-Nya, tetapi kita tidak mau naik ke tempat Ia berada, untuk
melihat Pribadi-Nya yang sesungguhnya.

Kitab Wahyu adalah contoh yang baik dari hal ini. Ketika Yohanes,
berada di Pulau Patmos, gereja pada saat itu sedang mengalami
kemerosotan. Penginjilan menurun, gereja patah semangat, dan mereka
telah kehilangan fokus -- hampir sama dengan kondisi kita pada hari
ini. Yohanes menerima kunjungan ilahi untuk naik [ke surga] dan
melihat hal-hal yang akan terjadi. Kita melihat bahwa Yohanes sedang
berada dalam Roh dan berada pada Hari Tuhan. Yohanes telah
mengkhususkan suatu waktu bagi Tuhan; ia menghormati hari Sabat.
Ketika ia datang dengan kerendahan hati di hadapan-Nya, ia pun
mengalami kunjungan ilahi. Kunjungan ilahi yang sama tersedia bagi
kita hari ini. Ketika Yohanes mendekat dan memasuki Takhta Allah dan
memandang keindahan Allah, ia melihat lautan kaca, takhta suci, 24
tua-tua, dan ia melihat Anak Domba yang layak mengambil gulungan
Kitab serta membuka meterainya. Pengajaran tentang Takhta Allah
adalah suatu topik tersendiri, tetapi yang saya ingin tunjukkan
dalam hal ini adalah bahwa Yohanes menjawab panggilan dari kunjungan
ilahi tersebut untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi dari yang
pernah ia lakukan sebelumnya. Ketika ia menanggapinya, ia melihat
hal-hal yang kita baca dalam kitab Wahyu.

Ketika kitab Wahyu diberikan kepada gereja setelah pertemuan ilahi
ini, gereja disegarkan dengan api yang baru dari surga. Gereja
memahami bahwa mati bagi Injil merupakan hikmat Allah, daripada
bertahan dalam penderitaan zaman ini. Injil tersebar, gereja
disegarkan, penginjilan meledak kembali, dan kehidupan Allah nampak
dalam hidup orang-orang percaya. Hari ini, berapa banyak dari kita
yang sungguh-sungguh mengalami pertemuan ilahi seperti yang dialami
Yohanes, yang mencangkokkan kehidupan Roh ke dalam gereja dan
pelayanan? Berapa banyak dari kita yang telah menyediakan waktu
untuk memasuki tempat doa untuk mencari wajah-Nya sampai Ia menjawab
kita? Tanpa penglihatan akan kemuliaan, pesan yang kita beritakan
tidak lengkap dan kita tidak dapat memberitakan pesan tersebut
dengan pemahaman penuh. Saya percaya bahwa inilah salah satu tempat
yang tidak dimiliki oleh gereja dan sangat dibutuhkan gereja saat
ini, yaitu memasuki tempat doa dan menerima penglihatan akan
kemuliaan. Kita memberitakan sebuah pesan meskipun kita tidak dapat
sungguh-sungguh menjawab pertanyaan yang ada dalam hati banyak
manusia, sebab kita sendiri belum mengalami hal-hal tersebut.

Pertemuan berikutnya yang kita lihat tentang Betania, tempat
kediaman Yesus, menunjukkan penglihatan akan kemuliaan Allah di
Bukit Zaitun, yang sesungguhnya berada di sebelah Betania. Bukit
Zaitun yang berada hanya 1 atau 2 mil di luar Betania tersebut
menghalangi sebagian Betania. Bukit tersebut adalah tempat pohon
zaitun bertumbuh. Itu adalah tempat matahari menyinari
cabang-cabangnya agar bertumbuh dan menghasilkan buah. Itu juga
merupakan tempat Bapa menyinarkan wajah-Nya kepada Anak dan
menghasilkan buah khusus yang melimpah. Di sinilah pertemuan yang
berikutnya untuk membangun sebuah tempat kediaman tersingkap. Kita
menemukan pertemuan ini dalam Lukas 9, yang secara umum disebut
sebagai kejadian Yesus dimuliakan di atas gunung. Para murid diminta
untuk pergi bersama Yesus dan berdoa. Yesus menyelinap dari
kesibukan-Nya dan Ia ingin agar murid-murid-Nya mengalami sukacita
dan kenikmatan dari doa. Dalam Yesaya 56:7, "mereka akan Kubawa ke
gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku
akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban
sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab
rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa."

Ketika Yesus membawa murid-murid ke Bukit Zaitun, Ia memberikan
kepada mereka kunjungan ilahi yang kemudian dijawab oleh Yohanes
tentang naik ke tempat yang lebih tinggi dan melihat hal-hal yang
akan datang. Para murid memperoleh kesempatan untuk naik ke Gunung
Allah yang kudus dan di sana mereka dapat mengalami sukacita doa.
Meskipun demikian, ketika Yesus meluangkan waktu bercakap-cakap
dengan Bapa, para murid tertidur. Hari ini, tampaknya banyak gereja
sedang tertidur, dan kita harus dibangunkan untuk dapat
sungguh-sungguh melihat dan memahami apa yang Allah kerjakan pada
saat ini. Yesus dan Bapa sedang berada di tengah percakapan ilahi
pada saat ini di gunung yang kudus. Kira-kira, apakah yang Mereka
katakan?

Ketika para murid akhirnya bangun, mereka melihat wajah Yesus
berubah. Alkitab berkata bahwa Ia bersinar, yang diterjemahkan
sebagai "seperti dibungkus oleh terang" [TB: putih bersinar seperti
terang, Red.]. Saya percaya, ketika kebangunan rohani dan
kebangkitan datang, kedua hal tersebut akan terjadi secara tiba-tiba
di dalam gereja. Mata kita akan terbuka dan kita akan melihat Yesus
bersinar seperti terang di hadapan kita. Terang Injil dan pewahyuan
akan Yesus ini akan meliputi kita sepenuhnya. Inilah kebenaran kita
yang bersinar sebagai keselamatan kita, menyala seperti Anak Domba
(Yesaya 62:1). Keselamatan kitalah yang mengakibatkan terang itu.
Kebenaran kitalah yang menangkap refleksi dari api keselamatan.
Refleksi inilah yang dilihat oleh orang lain. Mereka tidak dapat
sungguh-sungguh melihat keselamatan kita; mereka melihat buahnya,
sama seperti buah zaitun menyatakan karya yang tak terlihat dari
cabang-cabangnya. Pada pertemuan di atas gunung ini, para murid
mengalami hal yang sama seperti yang Yohanes alami. Mereka semua
melihat dan mendengarkan kemuliaan Allah dinyatakan dalam saat-saat
doa ini. Pertemuan semacam inilah yang mengubah kita selamanya.

Doa menjadi bagian penting dalam setiap kebangunan rohani, sebab
dengan berdoa hati kita diubahkan. Doa adalah tempat kerinduan batin
diwujudkan. Doa adalah tempat setiap orang percaya diubahkan dan
mendengar serta melihat alam kemuliaan. Doa adalah kunci dalam
melepaskan mukjizat-mukjizat yang kita lihat dalam kebangunan
rohani. Doa adalah pintu yang terbuka dari alam kemuliaan yang
sangat kita rindukan. Tanpa doa, tidak ada tempat kediaman Allah
sebagai tempat bercakap-cakap. Untuk memiliki percakapan, Anda harus
dekat dengan seseorang agar dapat berbicara dengannya dan
mendengarkannya. Doalah yang mengundang Allah untuk mendekat.

Mungkin kita rindu agar orang lain dan bukan kita sendiri yang
mendoakan kita. Mungkin kita rindu agar pemimpin kita yang membuka
jalan. Setiap orang percaya harus memanfaatkan kesempatan untuk
mendekat kepada Allah, walaupun sebagai pemimpin kita harus memimpin
jalan ke dalam waktu doa. Setiap orang percaya memiliki kemampuan
untuk membangun tempat kediaman Allah. Hal-hal lainnya yang kita
lihat dari pertemuan di gunung Transfigurasi [tempat Yesus berubah
rupa, Red.] adalah bahwa hal itu terjadi untuk orang-orang lingkar
dalam. Ia mengajak Petrus, Yohanes, dan Yakobus, ketiga murid yang
terdekat dengan hati-Nya. Ia mengundang mereka ke tempat doa. Petrus
sangat tergerak oleh apa yang ia lihat sehingga ia berkata, "Guru,
betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan
sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu
untuk Elia" (Lukas 9:33), tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya ia
katakan.

Kerinduan hati Petrus setelah ia mengalami saat doa ini, terlepas
dari kenyataan bahwa ia tertidur, muncul ketika ia melihat suatu
pandangan dari alam kemuliaan Allah dan manifestasi hadirat-Nya
sehingga ia tidak ingin pergi tetapi ingin menyembah. Ia ingin pergi
ke tempat ia dapat merasakan kedekatan [Allah] dan tidak ingin
pergi. Sering kali kita mengalami hal yang sama dalam penyembahan
atau doa kita -- seakan-akan Allah begitu dekat dan kita ingin
tinggal. Saat-saat seperti ini waktu terasa seperti berhenti, lalu
tiba-tiba saat-saat tersebut berlalu. Tuhan ingin agar kita lebih
dari sekadar tinggal. Ia ingin agar kita menjadi bagian dari apa
yang sedang Ia lakukan, dengan cara menikmati-Nya. Hal yang kita
butuhkan adalah meningkatkan dan memperbesar kapasitas kita bagi
Dia. Kita harus memperbesar fokus kita. Kita harus meningkatkan
kemampuan kita dalam doa dan menyembah. Lagipula, apakah kita
sekadar mengejar lawatan-Nya ataukah kita ingin berdiam?

Setelah Petrus berbicara, awan kemuliaan datang dan menaungi mereka.
Banyak kali, Allah datang dan jalan-jalan-Nya lebih tinggi daripada
jalan-jalan kita dan rancangan-Nya menyatakan sesuatu yang sama
sekali berbeda dari apa yang kita rancangkan. Ayat tersebut berkata
bahwa awan kemuliaan datang dan menaungi mereka. Kata menaungi
berarti "membungkus atau membayangi". Kata itu berasal dari bahasa
Yunani yang berarti "bayangan yang terjadi karena menangkap terang"
atau "sebuah gambaran disebabkan oleh obyek yang melambangkan bentuk
dari obyek tersebut". Awan yang menaungi mereka, kemuliaan Allah,
berada pada sisi belakang dan merefleksikan awan yang memancarkan
bayangan tersebut kepada mereka. Dan Alkitab berkata bahwa mereka
menjadi takut ketika mereka masuk ke dalam awan itu. Ketika kita
memasuki hadirat Allah yang sejati, takut akan Tuhan akan
mencengkeram hati kita.

Banyak dari apa yang kita sebut sebagai kemuliaan Allah atau awan
kemuliaan Allah sesungguhnya hanyalah refleksi dari kecemerlangan
Allah yang terlihat, dan bukan diri-Nya sendiri. Kita begitu takjub
oleh karena urapan yang segar atau tingkat urapan yang lebih dalam
sehingga kita mengacaukan antara urapan dengan kemuliaan. Kita
merasa puas dengan urapan, sementara yang Tuhan ingin berikan adalah
kemuliaan. Urapan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan umat, tetapi
kemuliaan adalah untuk menyatakan hadirat-Nya. Urapan adalah bagi
bagian luar rumah, kemuliaan bagi bagian dalamnya. Kemuliaan Allah
turun dan manifestasi hadirat Allah datang, takut akan Allah akan
mencengkeram hati manusia dan kita akan tahu pasti bahwa mereka baru
saja bertemu Yesus. Kesaksian mereka akan menjadi lebih dalam, pesan
yang keluar lewat hidup mereka akan semakin besar, dan datang kepada
Allah dalam doa akan menjadi suatu sukacita. Inilah yang terjadi
dalam hidup orang-orang yang telah melihat dan mengalami penglihatan
akan kemuliaan semacam ini.

Para murid memiliki kesimpulan yang sama dengan Yohanes Pembaptis
bahwa Yesuslah Kristus, Dialah Anak Allah, dan Dialah yang
[dinubuatkan] akan datang. Pewahyuan semacam ini hanya terjadi
kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari kebangunan rohani. Doa
atau komunikasi ilahi memampukan kita untuk melihat keindahan
kekudusan dan memasuki iman yang sejati. Tidak ada orang banyak yang
ditambahkan di sini; inilah tempat rahasia dari kebangunan rohani.
Inilah tempat doa. Inilah karya tersembunyi yang tetap tidak
terlihat. Inilah tempat tanda-tanda ajaib dan mukjizat dilahirkan.
Ketika mereka turun dari Bukit Zaitun, Petrus, Yakobus, dan Yohanes
tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang terjadi. Keesokan
harinya ketika mereka turun untuk menunjukkan bahwa mereka telah
melewatkan sepanjang malam dalam doa, orang banyak
berbondong-bondong menantikan mereka di kaki bukit.

Kehidupan tanpa doa adalah kehidupan tanpa kuasa. Dalam Lukas 9:38-42,
Yesus bertemu dengan seseorang yang memiliki anak yang kerasukan
setan. Pria tersebut menjelaskan bahwa mendadak anaknya berteriak
dan roh tersebut mengguncang-guncangkannya sehingga mulutnya berbusa
dan roh itu menyiksa dia. Ia telah meminta kepada murid-murid-Nya
untuk mengusir roh itu tetapi mereka tidak dapat. Lalu Yesus
berkata, "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat,
berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu dan sabar terhadap
kamu? Bawa anakmu itu kemari!" (ayat 41) Ia mengusir setan itu
keluar.

Para murid dihardik, Ia menyebut mereka tidak percaya dan sesat.
Mereka baru saja mengalami Bukit Zaitun, tempat doa. Hal yang Yesus
maksudkan adalah bahwa mereka harus melewatkan waktu dalam doa jika
mereka ingin memiliki kuasa untuk mengalahkan segala sesuatu yang
akan menyerang serta melawan mereka dan orang-orang. Iman timbul dan
selalu bergantung pada pemahaman dan penerimaan kita akan
pengampunan ketika kita bertobat. Jika kita tidak memiliki keyakinan
dalam hal ini, bagaimana mungkin kita dapat melangkah lebih jauh
untuk mengusir setan?

Bukit Zaitun memiliki tipologi lain di dalamnya. Semak-semak zaitun
tumbuh di sisi bukit agar memperoleh sinar matahari paling banyak
agar hidup dan bisa menghasilkan buah zaitun yang paling besar.
Zaitun itu lalu dipetik dan diperas dan menghasilkan minyak zaitun.
Sering Allah membuat kita pergi ke tempat yang disinari terang-Nya,
sebab kerinduan-Nya adalah mengirik kita agar minyak atau urapan
tersebut dapat mengalir dari hidup kita. Dalam doa sering kali
terjadi pemerasan dari hal-hal yang akan melawan kita. Hal itu
memampukan kita untuk berjalan dalam urapan yang lebih besar dan
memampukan urapan Allah yang telah ada menyatakan diri. Sama seperti
zaitun yang tidak memiliki nilai sampai ia diperas, sebab yang
dicari adalah minyak yang ada di dalamnya, hal yang sama juga yang
Allah cari dari hidup kita. Karunia-karunia dan hal-hal yang
tersembunyi yang telah Ia taruh dalam hidup kita dan urapan yang
belum terpakai harus bangkit ke permukaan. Allah rindu melakukannya.
Ia rindu urapan tersebut bertambah dalam hidup kita.

Mungkin kita harus pergi ke tempat yang lebih tinggi terlebih dahulu
sebelum kita melihat lawatan turun. Mungkin kita harus memahami dan
memiliki takut akan Allah seperti yang dimiliki oleh mereka yang
berada di gunung tempat Yesus dimuliakan, agar ketika Allah
menyatakan diri dalam ibadah-ibadah kita dan melakukan hal-hal yang
dahsyat, kita tidak akan mencuri kemuliaan tersebut bagi diri kita
sendiri, tetapi memuliakan dan menyukakan Dia, sebab kita tahu bahwa
segala yang kita miliki berasal dari-Nya. Bahkan urapan adalah
milik-Nya yang Ia titipkan pada kita. Dialah yang telah membawa
kehidupan atas kita. Dialah yang telah membawa kita pada kepenuhan
dari yang kita hidupi sekarang. Namun, kita tidak akan pernah
melihat kuasa mengalir melalui gereja sampai para pemimpin terlebih
dahulu pergi ke tempat tinggi, lalu umat mengikuti mereka. Kita
harus naik ke Bukit Zaitun dan melihat Yesus dimuliakan dalam hidup
kita, melihat Dia sebagaimana adanya Dia, memahami alam kemuliaan,
dan menerima penglihatan akan kemuliaan.

Diambil dan disunting dari:
Judul asli buku: The House of Bethany
Judul buku: 5 Kunci Kebangunan Rohani di Kota Anda
Judul artikel: Penglihatan dalam Kemuliaan: Doa
Penulis: Greg Crawford
Penerjemah: Leony Melina
Penerbit: Yayasan ANDI, Yogyakarta 2005
Halaman: 48 -- 58
______________________________________________________________________
TOKOH DOA

EZRA: TOBAT NASIONAL

Ezra bin Seraya adalah seorang ahli kitab yang mahir dalam Taurat
(Ezra 7:6; Nehemia 8:3). Ia memahami segala perintah dan ketetapan
Tuhan bagi orang Israel (Ezra 7:11). Ia juga seorang imam, pemimpin
doa dan ibadah (Ezra 7:11). Di Persia, tempat bangsa Israel dibuang,
Ezra dipercaya oleh raja Artahsasta (Artahsasta I) untuk menangani
kehidupan bangsa Israel. Kedudukannya di pemerintahan Persia
barangkali semacam Kepala Departemen Urusan Orang Yahudi.

Sama seperti raja Koresy dulu, Artahsasta sangat menghargai
orang-orang Israel yang tinggal di negerinya. Bahkan, ia mendorong
mereka untuk pulang dan membangun kembali bait Tuhan di Yerusalem.
Untuk itu, raja Artahsasta mengutus Ezra beserta rombongan
orang-orang Israel untuk pulang ke Yerusalem pada tahun 458 SM.

Raja Artahsasta memandang Ezra sebagai pemimpin atau pemuka bangsa
Israel. Karena itu, raja memfasilitasi perjalanan Ezra dan rombongan
Israel tersebut. Artahsasta sangat baik, ia memberi Ezra segala yang
diingininya (Ezra 7:6b). Raja memberikan banyak bantuan material dan
finansial untuk pembangunan Rumah Tuhan di Yerusalem (Ezra 7:20).
Dalam surat resminya, raja mengatakan bahwa ia telah memerintahkan
semua bendaharanya untuk membantu keuangan yang Ezra perlukan (Ezra
7:21).

Sebagai seorang pemimpin kepercayaan, Ezra diberi wewenang oleh raja
untuk mengangkat pemimpin-pemimpin lainnya. Artahsasta memberinya
tugas dan otoritas: "[H]ai Ezra, angkatlah pemimpin-pemimpin dan
hakim-hakim sesuai dengan hikmat Allahmu yang menjadi peganganmu,
supaya mereka menghakimi seluruh rakyat yang diam di daerah seberang
sungai Efrat, yakni semua orang yang mengetahui hukum Allahmu; ...."
(Ezra 7:25).

Kepemimpinan Ezra sendiri sangat menonjol di kalangan orang-orang
Israel yang merindukan tanah air mereka itu. Dengan penuh
kewibawaan, Ezra menghimpun orang-orang Israel dan memimpin mereka
untuk pulang (Ezra 7:28b).

Bangsa Israel menghormati Ezra sebagai seorang pemimpin dalam
pengajaran firman Tuhan. Mereka mengakui kepakaran Ezra dalam
[pengetahuan tentang] Taurat. Mereka menghormati urapan jawatan
sebagai pengajar yang Tuhan berikan kepada hamba-Nya itu. Setelah
pendirian tembok kota Yerusalem selesai, Ezra mengajarkan Taurat
kepada seluruh rakyat sehingga mereka menjadi sadar dan bertobat
(Nehemia 8:1-10:39).

Kehidupan Doanya

Ezra pastilah seorang pemimpin yang memiliki kehidupan doa yang
kuat. Alkitab mencatat bahwa tangan Tuhan melindunginya (Ezra 7:6c)
dan Allah begitu melimpahkan kemurahan atas kehidupan dan pelayanan
kepemimpinannya (Ezra 7:9). Orang yang dekat dan mengandalkan Tuhan
pasti diberkati-Nya secara khusus.

Kehidupan doa Ezra, dalam arti hubungan akrabnya dengan Tuhan,
dibangun di atas dasar firman Tuhan. Ezra memiliki tekad yang sangat
kuat untuk meneliti Taurat Tuhan (Ezra 7:10). Ezra melakukan
penyelidikan itu tidak semata-mata sebagai sebuah studi atau riset
ilmiah karena ia seorang pakar Taurat, tetapi juga sebagai
perenungan atau meditasi rohani sehari-hari karena ia seorang imam.

Belakangan ini banyak pemimpin Kristen mengambil studi lanjut (S-2
atau S-3) di bidang teologi, baik teologi sebagai ilmu murni ataupun
ilmu terapan. Tetapi, sering kali pendalaman firman Tuhan melalui
studi seperti itu hanya untuk menambah ilmu dan tingkat kemampuan
akademis, tidak ada hubungannya dengan kehidupan doa. Seorang
pemimpin Kristen juga harus menyelidiki firman Tuhan sebagai sebuah
perenungan atau meditasi rohani melalui doa dan saat teduh setiap
hari.

Sebelum memimpin bangsa Israel pulang ke Yerusalem, Ezra melakukan
tindakan berikut ini: "Aku menguatkan hatiku, karena tangan Tuhan,
Allahku, melindungi aku" (Ezra 7:28b). Ezra memantapkan hati,
pikiran, dan mental, sebelum menjalankan kepemimpinannya. Dari
kalimat itu, tampak bahwa Ezra memohon kekuatan yang dari Tuhan.
Demikian juga pemimpin Kristen masa kini, Roh Kudus akan memberi
kekuatan mental melalui doa-doa yang kita naikkan.

Spirit doa Ezra sangat terlihat dari tindakannya menggerakkan umat
Israel untuk berdoa puasa secara massal. Karena telah memperoleh
banyak harta serta dukungan moral dari raja Artahsasta, Ezra merasa
malu meminta lagi bantuan pengawalan militer dari kerajaan Persia
itu (Ezra 8:22). Di sisi lain, ia menyadari bahwa perjalanan pulang
menuju Yerusalem sangat berisiko, apalagi rombongannya besar dan
membawa banyak barang berharga.

Ezra percaya bahwa Tuhan sanggup melindungi perjalanan pulang
mereka. Karena itu, Ezra memaklumkan doa puasa, memerintahkan umat
Israel untuk merendahkan diri dan memohon perlindungan dari Tuhan
(Ezra 8:21). Ada kalanya kita tidak bisa lagi meminta bantuan
manusia. Dalam hal ini, seorang pemimpin dituntut untuk mengandalkan
Tuhan, bergantung pada perlindungan-Nya yang ajaib.

Doa Pertobatan

Ezra melihat bahwa orang-orang Israel yang pulang itu sudah
menyimpang dari perintah Tuhan. Sampai-sampai para imam pun telah
mengambil perempuan kafir menjadi istri-istri mereka. Perilaku
menyimpang dari perintah Tuhan itu merupakan kekejian di hadapan
Allah Israel (Ezra 9:1-2, 14).

Melihat dosa itu, Ezra berkabung, tulisnya: "Ketika aku mendengar
perkataan itu, maka aku mengoyakkan pakaianku dan jubahku dan aku
mencabut rambut kepalaku dan janggutku dan duduklah aku tertegun"
(Ezra 9:3). Seorang pemimpin sejati akan hancur hati ketika rakyat
atau jemaatnya jatuh di dalam dosa.

Hancur hati merupakan modal dasar bagi sebuah doa yang berkenan.
Sering kali pemimpin Kristen tidak merasa bersalah apa pun ketika
ada anak buahnya yang jatuh dalam dosa. Ia tidak menyesal karena
gagal membina domba-dombanya. Pemimpin Kristen yang baik akan hancur
hati -- meskipun bukan berarti berlarut-larut dalam kesedihan --
ketika melihat jemaat atau orang-orangnya jatuh dalam dosa. Dari
hati yang hancur itulah muncul doa yang tulus kepada Tuhan, sama
seperti Ezra yang kemudian berdoa memohonkan pengampunan bagi umat
Israel.

Sangat menarik jika kita mencermati reaksi Ezra kepada kaum Israel
yang berdosa itu. Ia tidak marah, dongkol, atau kecewa kepada
mereka. Ezra bukan tipe pemimpin yang suka menghakimi, menuduh, dan
mempersalahkan orang-orangnya. Tetapi, Ezra juga sangat merindukan
pertobatan kaumnya itu.

Ezra adalah seorang pemrakarsa kebangunan rohani. Akan tetapi ia
mempertobatkan orang bukan dengan khotbahnya yang berapi-api; ia
mempertobatkan orang banyak melalui doa yang dinaikkannya dengan
penuh penghayatan mendalam. Ia tidak berdiri di podium untuk
menyampaikan khotbah, tetapi ia berdiri di depan jemaah untuk
menaikkan doa-doa penyesalan (Ezra 9:5-15). Ezra berlutut,
mengoyakkan pakaian dan jubahnya, lalu menadahkan tangannya ke
hadirat Tuhan, serta menaikkan doa-doa penyesalan (Ezra 9:5).

Apa yang terjadi kemudian? Sementara Ezra berdoa dan mengaku dosa
sambil menangis, umat Israel berbondong-bondong datang dalam jumlah
yang sangat besar. Orang-orang itu menangis keras-keras (Ezra 10:1).
Terjadilah pertobatan nasional dan pembaruan komitmen kepada Tuhan.
Kadang, pemimpin Kristen tidak perlu berkhotbah untuk menyadarkan
kesalahan jemaatnya; mereka cukup berdoa, dan Roh Kudus menjamah
setiap orang sehingga mereka pun bertobat.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Mezbah Doa Para Pemimpin
Penulis: Haryadi Baskoro
Penerbit: Yayasan ANDI, Yogyakarta 2008
Halaman: 57 -- 62
______________________________________________________________________
STOP PRESS

KADOS (Kalender Doa SABDA)

Puji Tuhan, satu lagi sebuah publikasi baru diterbitkan oleh YLSA.
Publikasi yang bernama KADOS (Kalender Doa SABDA) ini adalah sebuah
publikasi yang lahir dari kerinduan YLSA untuk memberikan panduan
doa yang berisi panduan bagi Indonesia dan pelayanan YLSA kepada
Tubuh Kristus, agar melalui kesatuan hati dari setiap Tubuh Kristus,
Tuhan melawat dan memulihkan Indonesia serta nama Tuhan
dipermuliakan.

Publikasi yang terbit setiap minggunya ini sifatnya terbuka bagi
denominasi gereja mana pun. Dengan menjadi pelanggan KADOS, maka
secara otomatis Anda juga menjadi pelanggan e-Doa, Open Doors, dan
30 Hari Doa. Jadi bagi pendoa-pendoa Kristen Indonesia yang ingin
dibekali menjadi pendoa Kristen seutuhnya, tunggu apa lagi? Kami
tunggu keikutsertaan Anda di publikasi ini.

==> < doa(at)sabda.org > [kirim pesan]
==> < subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org > [berlangganan]
______________________________________________________________________
Kontak Redaksi: < doa(at)sabda.org >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org >
Arsip e-Doa: http://www.sabda.org/publikasi/e-Doa
Situs DOA: http://doa.sabda.org
Facebook DOA: http://fb.sabda.org/doa
Twitter DOA: http://twitter.com/sabdadoa
Situs YLSA: http://www.ylsa.org
Situs SABDA Katalog: http://katalog.sabda.org
______________________________________________________________________
Pimpinan Redaksi: Novita Yuniarti

Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright (c) 2010 e-Doa, Kalender Doa SABDA / YLSA -- http://ylsa.org
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
_________________________________

Minggu, 06 Juni 2010

Looking for God


Looking for God by Dudley Hall
So Judas, having procured a band of soldiers and some officers from the chief priests and the Pharisees, went there with lanterns and torches and weapons. Then Jesus knowing all that would happen to him, came forward and said to them, "Whom do you seek?" John 18:3-4 (ESV)

They were looking for God! They didn't know it, of course. They were doing the job that had been assigned. Judas was carrying out the deal he had made with the religious leaders. The soldiers were on the track of a person who they had been told was a terrorist. They were walled in darkness. They carried torches because the night was thick with darkness. They had darkness in their hearts because they could not see the Light who was before their very eyes.

The author John tells a good story. He began this treatise with:
In him was life and the life was the light of men. The light shines in the darkness, and the darkness has not overcome it. (John 1:4-5)

Jesus had come to reveal the true nature of God to mankind. He was and is the light that causes the darkness of confusion to dissipate. What irony! Now as the story begins to climax, these men of darkness carry torches to find him who is the light of the world, but can't see him. They view him as an enemy when he is actually the object of their life's search.

It is the same story for all of mankind. Ever since the Garden of Eden, men and women have groped in darkness looking for the fellowship Adam had with God. Blinded by self-centered arrogance, they have viewed God as an enemy when he was their only hope of making any sense of life's experiences. When plans don't play out as they hope, they find ways to blame God and his order. But they end up falling to the ground when he identifies himself.

When the men with torches and swords came stumbling through the garden looking for the insurrectionist, Jesus goes toward them. He asks them, "Whom do you seek?" Notice that they didn't control this engagement even though they had the swords. When Jesus acknowledged that he was their target by saying "I am he," they fell backward. The darkness cannot overcome the light... ever.

Could it be that what we are fighting against in our own attitudes might just be God incognito? Maybe the issue is not the external obstacle that seems to create so much pain. Maybe the terrorist we have identified is none other than the light of our world we so desperately need.

"Open our eyes, Lord, to see what your light exposes. We don't know ourselves very well and we don't know you well enough to cease our striving and rest in your care."

Kamis, 03 Juni 2010

Paradigm Shifts


Paradigm Shifts
Alice Smith

Thomas Friedman, the author of The World is Flat, said a sobering statement about young people of today. "Young people used to have to take LSD (a mind-altering drug) to escape. Now they just go online. Now you don't shoot up, you download."

This is true not only about young people, but the entire crazy world. Aren't we living in a day of detached emotions, easy believism and compromised doctrine? A time when a Facebook friend is more vital to our relationship, than a mother, father or spouse? What's happened to us? :~<

Recently, a friend of mine saw four couples in a restaurant, all busily working on their Blackberry's and I-phones. They were in each other’s presence, but they weren't really present! (Eddie and I have been guilty of the same. Yikes!) We may have social networks with people from India, Canada, South America and Europe yet fail to connect with our loved ones, and worst still, the greatest connection of all--talking with the King of all glory, Jesus Christ.

A shift in the heavenlies is happening. I'm sure you sense it. People are doing anything to fill their time, hoping that “busy-ness” will block out the concerns of everyday life. Especially for those who have never given their hearts to Christ. So, we shouldn't be surprised that one day there would come a generation who would experience the “beginnings of sorrows.” The beginning of massive worldwide shifts are here.

God told Daniel,”This is a confidential report, Daniel, for your eyes and ears only. Keep it secret. Put the book under lock and key until the end. In the interim there is going to be a lot of frantic running around, trying to figure out what's going on.' (12:4; The Message Bible)

That describes our age perfectly. We are frantically running around. Moms run over other moms in Wal-Mart to get the newest Christmas toy for their children. And Gen-x'ers camp out all night outside of Best Buy for the newest techno gadget available.

A paradigm is defined as a set of assumptions, concepts, values and practices that constitutes a way of viewing reality for the community living. Today, our paradigms are shifting so fast, we are getting whiplash from the jerks of change.

The apostle Paul encouraged us "to no longer be children, tossed to and fro and carried about with every wind of doctrine, by the trickery of men" (Eph. 4:14). However, he also told us, "FINALLY, my brethren, be STRONG IN THE LORD, and in the power of His might. Put on the WHOLE ARMOR of God, that you may be able to STAND against the wiles of the devil" (Eph. 6:10-11 emphasis mine).

Friend of Insight Newsletter, we are in the days of shaking! Get use to it! Get in the prayer closet! Get "socially connected" to Jesus. He will strengthen your weak knees, help you to stand strong in the day of battle, and no matter how many times your paradigms shift, you will still STAND!

Rabu, 12 Mei 2010

Are You Too Busy To Be A True Christian



Are You Too Busy
To Be A True Christian
by Eddie Smith


Dear friend,
I was teaching at a Christian conference in a western U.S. city. At the dinner break I loaded my rented van with prayer leaders from around the nation and we set out to search for a restaurant.

To those of you who don't know me well, I'm not the world's best driver. Or, perhaps I am. After all, how can anyone drive like I do and live so long? Anyway, I zipped through traffic, drove through the parking lot of a hamburger joint where I almost ran over what I came to realize were two men. I couldn't see their heads. You see, they were up to their shoulders in a trash dumpster looking for food!

As we passed, one of the men emerged gnawing on a partially eaten (by someone else) chicken leg. With my sense of humor I quipped, "Anyone want to have dinner with these guys?" There was a collective groan, "No way!"

I plopped into the main thoroughfare on the other side of the parking lot and began scouring the roadside ahead for restaurants when I was suddenly arrested. Not by the police. I was arrested by the Holy Spirit. He said, and I repeated to the group, "You're moving much too fast to hear from me." I begged their indulgence as I made a U-turn and returned to the dumpster. As I pulled up next to the headless torsos, I yelled, "Hey, what are you doing?" They both emerged with surprise. "Uh, trying to find something to eat," Gilbert (I would later know his name) explained.

I looked back into the crowded van and shouted to my passengers, "It's offering time." Almost immediately $30 in cash was handed to the front.


"Here," I said, handing the cash with a gospel track to Paul, the other young man. "This should take care of the food. What's going to take care of your sin?" Gilbert's head dropped as he muttered, "I don't know." Suddenly the Lord gave me a word of knowledge. (A word of knowledge, from 1 Corinthians 12, is Holy Spirit-given insight not known in the natural.) "Paul, God wants to set you free from a spirit of homosexuality that has you bound." "I know," he said as he burst into tears. In a few more minutes the entire van was interceding and weeping along with Gilbert, Paul and me, as these two young men gave their hearts to Jesus. Needless to say, our dinner was much more enjoyable following this episode.

At a similar conference of national Christian leaders in a major hotel in the Midwest, our group spent three days in discussions on how to reach the nations with the gospel of Christ. The third morning I stopped at the gift shop on my way to the plenary session. As I paid for my chewing gum I took a moment to share the gospel with the young man at the counter.

He was politely interested and grateful that I'd taken time to do so. But clearly he wasn't ready to receive Christ. In parting, I asked, "In what country were you born?" He said he was Pakistani. "Have you worked here all week?" I asked. He said he had. "Has business been good for you?" He said it had. "Has anyone else shared the message of Jesus Christ with you this week?" He admitted that no one had. This news saddened me. I returned to the meeting and told the assembled leaders, “Folks, the Lord has brought the nations to us. While we sit here hour on end and discuss how to reach them, we aren't reaching them at all.”

My question today is, are we too busy "doing Christian things" to BE Christians? Are we too busy making plans to complete the Great Commission to be about the work of completing it? Perhaps today would be a good day to slow down and pay attention to the opportunities God presents to us each day.

Selasa, 04 Mei 2010

Handling Crisis!


Handling Crisis!
Alice Smith

Have you ever been in a crisis that you knew the Lord was ready and waiting to give you victory, and yet you blew it? When you could have trusted and praised Him for the situation, instead you complained? Has it happened to you? It has to me. What generally happens next?

Most often the Father engineers the crisis again, to give you another opportunity to pass the test. However, you will not be as committed to learn the lesson as before. There will be less discernment of God and more humiliation having not obeyed. And if you continue to grieve the Holy Spirit, there will come a time when you become numb to the crisis – choosing simply to blame the devil for your own lack of obedience. Never sympathize with the issues in your life that are stabbing God all the time. God sometimes has to shake areas in your life that must change. If you continue to resist the work of the Lord, the result will be emotional turmoil and spiritual emptiness.

However, if you face the crisis with humility, all the while praising God for the opportunity to become more like Him, then the testimony of your life reflects Christ’s likeness to others. Gloriously, you are promoted to new levels of victory and joy because in your heart you know that you stood strong in faith regardless of the crisis you had faced.

Can you imagine the tension that Moses felt when he was asking for God’s presence to go with him as he was leading the children of Israel into the Promised Land? In prayer, Moses asked God, “Now therefore, I pray thee, if I have found grace in thy sight, shew me now thy way, that I may know thee, that I may find grace in thy sight: and consider that this nation [is] thy people. And he said, My presence shall go [with thee], and I will give thee rest. And he said unto him, If thy presence go not [with me], carry us not up hence” (see Ex. 33:13-15).

Can you see Moses’ crisis? Moses was faced with leading millions of people from slavery, through a wilderness and into a place of promise? He would not go without the presence of the Lord. You too may be afraid to move forward, when facing your crisis. Questions invade your mind like, Did God really tell me to do this? or What happens if I fail?

Do you experience undisturbed peace when faced with difficulties? I find myself many times painfully disturbed, distracted and unsure. It’s as if the waves and billows of God’s providential timing are sweeping over me even though I am not prepared for them. Moses didn’t feel ready to face his crisis either. Yet God told him, “And it shall come to pass, while my glory passeth by, that I will put thee in a clift of the rock, and will cover thee with my hand while I pass by: And I will take away mine hand, and thou shalt see my back parts: but my face shall not be seen” (Ex. 33:22-23).

Do you find there is an unconscious fear that maybe if you pursue the Lord more, and begin to receive His friendship in a deeper way, that it might cost you more than you are willing to pay? We long for more of His presence, and yet we know that to whom much is given, much is required. Surely the responsibility could be so great that if you disobeyed or did something stupid during the crunch time, you would be disqualified for future ministry opportunities. Relax. The Lord is a good God and He desires for us to stay humble, teachable and always hungry for more of Him. As long as you continue to seek His face, you have nothing to worry about.

To learn God’s ways can be costly. But to live without knowing His ways will always cost you more. God called Moses His friend. (See Ex. 33:11.) The crisis may prove difficult, even costly, but imagine the joy of hearing the Father call you His friend. Don’t you want that? I do.

Rabu, 14 April 2010

Lessons We Can Learn From Jesus' Spiritual Warfare Prayer


Lessons We Can Learn From Jesus'
Spiritual Warfare Prayer
by Eddie Smith

Then the Lord (Jesus) said, "Simon, Simon, listen! Satan has demanded to have you apostles for himself. He wants to separate you from me as a farmer separates wheat from husks. But I have prayed for you, Simon, that your faith will not fail. So when you recover, strengthen the other disciples." (Luke 22:31-32, GW).

Almost 2,000 years after Jesus spoke these words to Simon Peter, Christians continue to debate the validity of spiritual warfare prayer.

However, I suspect that those who argue against spiritual warfare prayer argue less with Scripture and more with some of our models and methods. They would say, "Perhaps spiritual warfare prayer is valid, but what that group is doing can't possibly be it!" In some cases, they may be correct. There are some things about these two verses that I find particularly interesting.

First, notice that Jesus is so in touch with heaven (because of His own intimate prayer life) that He knew what Satan had demanded of the Father. Remember, Jesus was completely dependent upon the Father (John 5:19). Without his daily "military intelligence report" from heaven, Jesus was helpless. He could do nothing. So, true spiritual warfare prayer, whatever it is, is absolutely heaven-dependent. What Satan is doing today is not nearly as important as what God is doing, when it comes to spiritual warfare!

Second, look at what Satan really wanted. We know Satan's job description is "to steal, to kill, and to destroy" (John 10:10). Jesus said that Satan wanted to sift Peter (and the other disciples) like a farmer separates the wheat from the husks. But look what Satan was actually after. He wanted to separate the Apostles from Jesus! His war strategy was to "divide and conquer."

Third, Jesus said, "But I have prayed for you." No doubt Peter breathed a big sigh of relief at this point. He must have thought, thank God! For a minute there it sounded like I was going to be sifted, whatever that means. But Peter's relief was short lived, for Jesus continued, "I have prayed that your faith won't fail during the sifting." What do you mean, "During the sifting!?" Why didn't you pray that I wouldn't be sifted?

Again, Christ wasn't praying according to Satan's agenda.

His praying was based on God's agenda. And at the time, God was developing Apostles. And Apostles, like you and me, are forged in the fiery furnace of affliction. At times, God will even allow the enemy to do things in our lives, in order to accomplish His purposes.

Old Testament saints prayed to be delivered from their circumstances. New Testament saints pray to be developed by their circumstances.

Finally, you will see that Jesus had no doubt about Peter's ultimate victory. Why would He? After all, He had prayed in faith for Peter's faith not to fail. So, he confidently says, "So when (not if) you recover, strengthen the other disciples!"

A happily married woman with two children lost both of them. They were buried in the same grave. After that, she suffered a deep emotional collapse. For years her family fed and cared for her as though she was as weak and helpless as a little child.

One day her aunt, a joyful Christian, took her turn at feeding her. The distraught and despondent woman said, "Auntie, you keep on saying that God loves us. I used to think so too; but if He loves us, why did He make me as I am?"

The aunt kissed her gently, said with the wisdom of years, "Dear, He hasn't made you yet. He's making you now!"

"When through fiery trials thy pathway shall lie, My grace, all-sufficient, shall be thy supply; The flame shall not hurt thee; I only design Thy dross to consume and thy gold to refine.”

Rabu, 17 Maret 2010

Turn On The Light


Turn On The Light

Eddie Smith
Dear friend,
Did you know that people actually suffer from light deprivation? It's a scientifically-established medical condition.
Many of us work indoors all day in closed office spaces. We leave home before dawn to get to work. Then after night falls we wind our ways back to our homes.
Life on our planet is entirely light-dependant. Sunlight signals us to awake and to fall asleep. Unfortunately, many of us are out of sync with the rising and setting sun. Light deprivation worsens in the winter, when there are even fewer daylight hours; and is worse in the Baltic nations and elsewhere closer to the arctic where daylight hours are fewer. Depression and even suicides are attributed to the lack of sunlight.
Some years ago Alice and I were in Latvia in the fall. The snow fell every day—it was beautiful. To the Latvians it wasn't cold; but, we were freezing. Nothing could prepare us for nightfall beginning around 3:00 o'clock in the afternoon, and sunrise around 8:00 o'clock in each morning. It was depressing.
This all came to mind recently when, in an airline magazine, I (Eddie) noticed an advertisement for small light-emitting device that's touted to rectify the situation for those of us who sit indoors at computers all day. Face it. Whether you're a pro athlete or a potted plant, you need light!
A more significant form of darkness we confront is the spiritual darkness that keeps men, women, boys and girls lost in their sins, blinded to the claims of Christ (2 Cor 4:4). There's even a level of spiritual darkness that keeps saved people blind to the truth.
When I was five years old I was transferred out of the kingdom of darkness into the kingdom of God as I was born again. At nine years of age I took seriously my responsibility to rescue others from darkness. That was 59 years ago. Thus far, I've invested 50 years in full-time ministry. This month I celebrate my 68th birthday. I suppose it's natural for someone my age to ask where the time has gone.
In 1967 evangelist Arthur Blessitt, of the recent movie “The Cross,” and I conducted a revival meeting at Highland Avenue Baptist Church in National City, California (San Diego) where I was minister of music. He preached, I led the music and each night following the service we strolled the downtown streets to share Christ with anyone who'd listen.
We had some remarkable encounters and saw dozens of people come to Christ. I was so taken by Arthur's passion for souls that three weeks later, I resigned my church job, drove uninvited to Arthur's home in another town, knocked on his door and told his wife, “My name is Eddie and God has told me to come and work with Arthur.” She shouted, “We have prayed that you would come. The next Monday we began what would become a ministry in Hollywood for which Arthur would later become well-known. We were Sunset Strip's “night-life evangelists.”
That was 43 years ago. We eventually went in different directions. Arthur carried his wooden cross 38,000 miles across more than 300 nations and became the subject of a Hollywood movie. I took the more traditional route and became a concert and recording artist, a crusade music evangelist, singer-songwriter, local pastor and author. And of course, met and married Alice, my anointed copartner in life and ministry.